Minggu, 18 Februari 2018

Setiap pagi sebelum memasuki kelas, anak-anak didik kami selalu dibiasakan dengan membaca kalimat, yang kami istilahkan dengan Iqrar/Ikrar, semacam afirmasi keridhaan dan pernyataan positif seorang Muslim, bunyinya "Radhitu Billahi Rabban, wa bil Islami Dinan, wa bin Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan", (Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai Agama, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan utusan Allah). Sumbernya berasal dari hadits riwayat seorang sahabat Rasulullah SAW yang mulia, namanya Abu Said Al-Khudri. Apa keampuhannya?, Wajabat lahu Al-Jannah, kata Nabi SAW. Bahwa orang yang mengucapkan itu akan mendapatkan balasan masuk Surga.

Ridha itu kerelaan, kesukaan, kecintaan, persetujuan dan kenyamanan. Ada seorang murid saya, tubuhnya mungil, berkacamata, agak pendiam namun pintar, sekarang ia duduk di kelas 3 Ibtidaiyah, yang satu ini, sepanjang saya mengenalnya tidak sekalipun dia tidak menyalami saya saat berpapasan atau bertemu di ruang kelas. Walaupun murid-murid lain juga banyak yang berakhlak seperti ini, namun intensitasnya tidak seperti dia. Yang seperti ini kira-kira salah satu gambaran keridhaan seorang murid terhadap gurunya, maka layak murid seperti ini mendapat keridhaan gurunya dan keberkahan ilmu darinya.

Contoh riil lainnya ada pada diri Ibnu Abbas, ia adalah murid dan penerus keilmuan yang disampaikan oleh Rasulullah, sudah tergambar sejak ia masih kecil. Bahkan Umar bin Al-Khathtab berani mengetengahkannya di hadapan para sahabat senior lainnya saat meminta penjelasan tentang tafsir surat An-Nashr. Apa yang membuat ia bisa melampaui sahabat-sahabat lainnya, tidak lain karena doa dan keridhaan yang diungkapkan Rasulullah SAW terhadapnya. Beliau doakan Ibnu Abbas agar dianugerahi pemahaman yang mendalam akan ilmu agama dan takwil. Hal yang sama juga ada pada diri Abu Hurairah. Ia sosok murid yang tidak pernah tertinggal dari majlis-majlis Rasulullah, yang demikian juga membuatnya kebagian ridha dan doa Rasulullah, yaitu senantiasa dicintai  oleh segenap kaum muslim dan muslimat, sampai akhir zaman.

Kalau sekarang banyak kabar murid yang menganiaya, kurang adab dan tidak memuliakan gurunya. Maka itu bukan hanya akan mengikis keridhoan guru, akan tetapi juga keridhaan Allah SWT. Karena ilmu itu cahaya Allah. Orang yang tidak memuliakan penyampai cahaya Allah, sulit baginya mendapatkan sinar kebaikan dan keberkahan. Betapa hebatnya penyair kenamaan Mesir, Syawqi Dhaif, saat dia mengatakan dalam sebuah bait fenomenalnya; "Tegak, sambutlah sang guru, beri penghormatan kepadanya # Karena kedudukannya, hampir menyamai seorang Rasul".

Kisah ini hanya untuk jaga-jaga, pernah ada seorang murid kualat, tapi ini sudah kualat tingkat tinggi. Dia adalah seorang lelaki dari Bani An-Najjar, dia masuk Islam, lalu belajar surat Al-Baqarah dan Ali Imran, karena kepiawaiannya menulis, Rasulullah SAW menunjuknya menjadi salah satu juru tulis wahyu. Akan tetapi kepongahannya membuatnya menjadi murid yang angkuh pada gurunya, Rasulullah SAW. Saat beliau menyuruhnya menulis "Ghafuran Rahiman", yang dia tulis malah "Aliman Hakiman". Saat disuruh menulis "Aliman Hakiman", yang dia tulis jutru "Samian Bashiran". Rasulullah, menegurnya agar menulis seperti yang beliau diktekan kepadanya. Namun dia membantah, dengan mengatakan "aku yang pandai menulis, terserah aku mau menulis apa".

Lelaki itu akhirnya kembali murtad. Ia bergabung dengan kaum musyrikin dari ahli kitab lainnya. Lalu ia berkata, "aku telah meninggalkan Muhammad, dan aku yang paling tahu tentang dia, akulah yang menuliskan untuknya". Betapa kawan-kawannya dari kalangan musyrik membanggakannya, tapi mendadak ia mati, Allah cabut nyawanya tanpa pernah diperkirakan oleh mereka. Kaum musyrik yang sedang mengelukannya terhenyak, mereka pun akhirnya menguburkannya.

Keesokan paginya mereka terkejut, kuburan itu terbongkar, seakan bumi memuntahkannya tanah berhamburan dan jasad lelaki itu ada permukaan tanah. Mereka lalu menuduh Nabi dan para sahabatnya yang telah membongkar kuburan itu, lantaran kesal pembelotan lelaki tersebut. Untuk itu mereka menguburkannya lagi dengan cara menggali lebih dalam dan betul-betul memadatkan tanahnya, agar tidak ada yang membongkarnya lagi. Tapi kenyataan berkata lain, keesokan paginya jasadnya kembali terbujur di permukaan tanah, dan tanah kuburan berhamburan terbongkar.

Mereka pun tersadar bahwa bukan manusia yang membongkarnya, tapi bumilah yang tidak mau menerima jasadnya. Bumi memuntahkannya, ia kualat terhadap gurunya, ia menentang dan merendahkan gurunya, Rasulullah SAW. Akhirnya kaum musyrikin membiarkan jasadnya seperti apa adanya dan tidak lagi menguburkannya. Kisah ini terekam dalam periwayatan imam Ahmad, imam Muslim, dan imam Al-Bukhari. Menurut Anas bin Malik, bahwasannya Abu Thalhah menyaksikan sendiri TKP peristiwa ini. Semoga kita senantiasa mengambil pelajaran.

Wallahu a'lam, A.P.K. 18.02.18

Posted by etalase44 On 00.06 No comments READ FULL POST

Jumat, 16 Februari 2018

Hidup itu banyak dinamikanya. Di dalam kamus, dinamika itu artinya gerak terus-menerus yang dapat menimbulkan perubahan. Sesuatu yang bergerak itu biasanya menimbulkan sentuhan, gesekan, benturan, dst, kalau tidak demikian, maka tidak ada gerakan, alias diam. Sesuatu yang diam, jika terlalu lama mendekam akan berbau, berdebu, tumpul, dan usang dengan sendirinya. Sebaliknya, sesuatu yang bergerak akan memunculkan riak-riak, getaran, aus, ataupun perpecahan.

Pernah suatu masa, ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah SAW. Dia merasakan hubungannya dengan suami kurang romantis dan tidak harmonis. Suaminya itu tukang jahit bahan-bahan dengan material kulit. Karena terlalu fokus pada pekerjaannya, perempuan itu merasa kurang perhatian dari sisi biologis, mungkin kata orang sekarang, jarang dibelai, saking kesalnya ia katakan bahwa suaminya seperti perempuan.

Sebagai seorang pemimpin dan yang dituakan, Rasulullah bersikap arif, "hadirkan kemari suamimu", ujar beliau. Setelah ia datang, beliau tanyakan; "Menurutmu, apa yang bisa kau katakan tentang diri istrimu ini". Lelaki itu menjawab; "Demi Dzat yang telah memuliakan engkau, kepalaku tidak pernah kering karena dia". Mendengar itu, istrinya langsung menukas; "Dia hanya datang sekali dalam sebulan wahai Rasulullah".

Setelah acara dengar pendapat itu:), Rasulullah SAW lantas bertanya; "apakah kau masih marah pada suamimu?, "Ya, tentu saja", jawabnya. Maka Rasulullah SAW segera mengambil tindakan, "Dekatkan kemari kepala kalian berdua", setelah dekat beliau menempelkan kening istri tersebut kepada kening suaminya, kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, rekatkan hubungan mereka berdua, ya Allah buatlah keduanya saling mencintai"

Cerita ini bukan drama yang dibuat-buat, tapi melukiskan kepada kita, bahwa sebaik-baik pertengkaran adalah yang berakhir dengan kecintaan. Tapi memang butuh orang tua atau orang yang dituakan, atau penengah atau orang yang bisa berada di tengah-tengah, menyuarakan kedamaian dan membawa pada kemaslahatan. Acap kali pertengkaran itu mudah terjadi pada mereka yang sebaya, seusia, seangkatan, seprofesi, sepekerjaan, tapi jika ada yang dituakan, dihormati, disegani, yang berani memegang dua kepala mereka yang sedang bertengkar, menyatukan kening keduanya, maka akan cepat teratasi dan kembali kepada kecintaan dan silaturahim. Kata para ulama; Al-Adab fawqa Al-ilmi (Adab itu di atas ilmu), sedangkan kata Abdullah bin Mubarak; Aku belajar adab 30 tahun, aku menuntut ilmu 20 tahun". Karena mereka sadar, adab itulah yang akan membawa pada cinta setelah pertengkaran.

Beberapa hari berikutnya, Rasulullah SAW bertemu lagi dengan perempuan tadi di pasar. Lalu beliau bertanya, "Bagaimana kini keadaanmu dan suamimu? dia menjawab: "Demi Dzat yang telah memuliakan engkau, tidak ada barang yang baru maupun yang lama yang aku cintai, melebihi cintaku pada suamiku". Subhanallah, Sungguh beliau adalah utusan Allah, doa beliau tak ada yang tak manjur, jika ingin mencobanya, begini lafazh arabnya : Ψ§Ω„Ω„Ω‡Ω… ألف Ψ¨ΩŠΩ†Ω‡Ω…Ψ§ و Ψ­Ψ¨Ψ¨ Ψ£Ψ­Ψ―Ω‡Ω…Ψ§ Ψ₯Ω„Ω‰ Ψ΅Ψ§Ψ­Ψ¨Ω‡

Hari ini, selepas khutbah Jumat tadi, seorang jamaah berdiri menyalami, sambil menjabat tangan dia berbisik; "Ustadz, tadi makhrajnya ada yang kurang pas", Saya tersenyum, sembari menjawab "terima kasih pak, sudah diingatkan". Dalam hati saya, ini contoh orang beradab, yang tidak suka bertengkar, yang memperbaiki dengan kebaikan dan cara kebaikan.

Wallahu'alam, A.P.K. 16.02.2018


Posted by etalase44 On 02.01 No comments READ FULL POST

Rabu, 14 Februari 2018

Di masa Umar, ada sekelompok kaum dari Yaman, hendak bergabung dengan pasukan Umar. Dalam perjalanan, salah seorang dari mereka mendapat masalah, yaitu Keledai tunggangannya mendadak roboh, mati.

Para sahabatnya menawarkan bantuan agar ia tetap pergi bersama tunggangan mereka. Namun ia menolak. Ia mengambil tempat wudhunya, lalu berwudhu, ia mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian berdoa; Ya Allah, aku telah berserah diri kepada-Mu, beriman kepada-Mu, pergi berjuang di jalan-Mu, demi mengharapkan ridha-Mu, JANGAN KUASAKAN KEPADA SIAPAPUN UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADAKU, aku mohon kepada-Mu bangkitkan kembali keledaiku".

Tiba-tiba keledainya menggoyangkan kepalanya, mengibaskan telinganya, lalu bangkit berdiri. Lelaki itu gembira, ia langsung memacu menyusul rombongannya yang telah dahulu melanjutkan perjalanan.

Itulah yang disebut karomah. Menurut ulama, karomah yang terjadi pada suatu umat, merupakan mukjizat sang Nabi. Artinya, salah satu mukjizat seorang Nabi, adalah turunnya karomah pada umatnya.

Yang menarik dari kisah ini adalah doa lelaki tersebut. Ia mengetuk pintu peluang. Kata orang bijak, peluang yang  sama tak berulang kedua kali. Dia mengetuk peluang dari Tuhannya, hanya dari Tuhannya. Dia katakan, jangan seorangpun dikuasakan untuk memberi bantuan kepadanya. Dia tak ingin melewatkan peluang pertama yang harus ditempuh, yaitu Allah SWT.

Dalam kehidupan secara umum, maupun dunia kerja secara khusus, peluang kerap datang secara sporadis. Ia terkadang datang ketika kondisi fisik, sarana, pendukung, sedang tidak siap. Namun disanalah orang tua kerap mengatakan; ini kesempatan, jika diambil dapat satu, tak diambil dapat nol. Alias lewat sama sekali.

Yang penting selalu sertakan Allah dalam merengkuh peluang. Jangan rumit dalam melangkah. Jika ada salah dalam upaya, minta maaf. Jika ada kenikmatan, diungkapkan. Serta menghindar selalu dari kebencian, hasud dan kedengkian.

Ketulusan akan membuahkan kesempatan yang dahsyat, seperti Anas bin Malik, ia berkhidmat melayani Rasulullah SAW, selama lebih kurang sepuluh tahun.,

Dalam masa itu, ia mendapatkan kesempatan dan PELUANG EMAS, didoakan oleh Rasulullah SAW, yaitu dipanjangkan usianya, dianugerahi harta benda dan anak keturunan yang banyak. Doa itu terkabul, dalam hidupnya Anas dikarunia kebun buah yang luas dan dapat dipanen dua kali dalam setahun. Di dalamnya ada tumbuhan Raihan yang menghasilkan parfum beraroma kasturi. Anak keturunannya hampir berjumlah seratus orang, dan usia Anas mencapai angka seratus tahun.

Wallahu a'lam. A.P.K.15.02.18

Posted by etalase44 On 22.35 No comments READ FULL POST

Selasa, 13 Februari 2018

Seperti biasa saya datang ke kantor jam 6.10 menit, membuka pintu ruangan, udara dingin Ac lagsung menyeruak, karena memang petugas OB kami sudah menyiapkan sejak awal pagi. Begitu duduk di kursi, tiba-tiba ada seekor nyamuk terbang dan berusaha hinggap di tangan. Namun dengan cepat saya menepuknya. Hidupnya pun berakhir.
Setelah membuat secangkir kopi, pikiran saya terbawa untuk merenungi nasib nyamuk tadi. Begitu mudah dan cepat ia mati. Lalu apa yang terjadi setelah ia mati?. Entahlah, belum pernah mendengar kisah-kisah masa lalu yang pernah terjadi tentang nyamuk. Meski terlihat remeh, tapi kata nyamuk termaktub di dalam Al-Quran untuk menggambarkan bahwa Allah SWt tidak pernah malu untuk memberikan perumpamaan dan embelajaran meskipun dari seekor nyamuk yang kecil dan rapuh.
Tapi, yang jelas, hewan jika ia sudah mati, tak ada hisab baginya, yang ada adalah kenyamanan. Seperti dulu, seekor rusa yang ditangkap oleh seorang Arab pedalaman. Saat ia masih terikat di kemah pemburunya, tiba-tiba Rasulullah SAW lewat, rusa itu pun berkata; Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku. Pemburuku ini sudah lama menangkapku, tapi tak kunjung menyembelihku agar aku merasa nyaman. Lepaskanlah aku sebentar untuk menyusui dua anakku, setelah itu aku akan kembali lagi kemari dan engkau bisa mengikatku kembali.

Nabi SAW memenuhi permintaan rusa itu, beliau melepaskannya, dan tidak berapa lama ia kembali lagi
memenuhi janjinya kepada Rasul. Beliau pun mengikatnya lagi. Tiba-tiba si pemilik buruan datang, Rasulullah berkata kepadanya; maukah kau menjual rusa ini?. ia menjawab; "Aku berikan ia kepada engkau wahai Rasulullah". Rasul pun menerimanya, dan beliau langsung melepaskannya. Begitu di lepaskan, rusa itu kegirangan, ia menghentakkan kakinya di tanah tanda gembira, lalu mengucap; Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan sungguh engkau adalah utusan Allah. Ia pun pergi kembali kepada kedua anaknya yang masih menyusu.

Musthofa Lutfi Al-Manfaluthi, seorang tokoh kenamaan di Mesir pernah bercerita tentang nyamuk, ia menuturkan;Seekor nyamuk telah menggangguku. Aku berusaha menepuknya, tapi sayapnya lebih cepat membawa lari mungil tubuhnya. Aku mencoba membuka jendela, dan dengan cara itu ada gerombolan nyamuk lain yang langsung menerjang masuk. Kuhantam mereka dengan satu kibasan, Luar biasa ternyata mereka mampu menghindar dengan berpencar. Sungguh baru kali ini aku melihat ada umat yang dengan jalan berpencar dan berbeda arah malah mampu menyelamatkan kehidupannya. Mereka adalah umat nyamuk.

Antara nyamuk dan rusa; Nyamuk kerap tak berterus terang, ia terbang perlahan, hinggap di tubuh, seolah hendak menyentuh lembut tapi ternyata menghisap darah. Sedangkan rusa, dalam peluangnya , ia tetap mempertahankan kejujuran dan sikap menepati janji, alhasil indahnya kebebasan ia berhasil ia dapatkan.
Wallahu'alam, ini hanya sebuah tulisan ringan.
A.P.K. 14.02.18
Posted by etalase44 On 22.51 No comments READ FULL POST

Minggu, 11 Februari 2018

Seorang wanita menghentikan perjalanan Rasulullah SAW, ia mengadu; "Wahai Rasulullah, anakku ini sering diganggu jin, dua sampai tiga kali dalam sehari, kami sudah cukup kesusahan dengan bala' ini".

Rasulullah SAW meminta agar anak itu dibawa ke hadapan beliau. Lalu seraya memegang ujung hidungnya, beliau berkata di telinga anak itu; "Pergilah kau wahai musuh Allah, sesungguhnya aku adalah utusan Allah".

Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan. Ketika kembali, beliau melintasi jalan yang sama, dan menjumpai lagi wanita tadi. Ketika ditanyakan tentang kondisi anaknya, wanita itu menjawab; "Sudah sembuh wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, jin pengganggu itu sudah tidak datang lagi".

Wanita itu sudah menyiapkan dua ekor kambing, susu, dan minyak samin untuk hadiah kepada Rasulullah dan sebagai ucapan terima kasihnya atas kesembuhan anaknya.

Rasulullah berkata kepada sahabatnya; "Terimalah susu, minyak samin, dan satu ekor kambing, sedangkan yang seeekor lagi kembalikan kepadanya".

Kisah ini memuat teladan akhlak yang mulia, juga mengingatkan saya kepada seseorang, beberapa tahun silam, orang itu memberikan nasihat kepada saya, katanya "orang memang tidak meminta balasan, karena memang dia merasa itu sudah kewajiban dan tugasnya, tapi kita yang harus pandai berterima kasih. Betapa banyak pekerjaan kita diringankan oleh orang lain, rekan kerja kita, bawahan kita, sahabat-sahabat dan keluarga kita, tanpa kita sadari, namun kita lupa berterima kasih.

Rasulullah menghargai orang yang berterima kasih kepada beliau, namun beliau cukup menerima sewajarnya, tidak berlebihan dan tidak pula mau mengecewakan. Di dunia ini orang yang tidak boleh luput dari terima kasih adalah orang tua dan guru. Hatta, mereka telah meninggal dunia. Setiap untaian doa yang kita ungkapkan untuk mereka, akan meninggikan derajatnya di sisi Allah SWT.

"Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada sesamanya".

A.P.K. 12.02.18







Posted by etalase44 On 23.20 No comments READ FULL POST
Di dalam hidup ini, salah satu yang tidak perlu diragukan lagi adalah Al-Quran. Mukjizat terbesar yang diturunkan, dibawa oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan kepada Rasul yang paling mulia, pada bulan yang paling mulia, bertempat di dua kota yang paling mulia; Makkah dan Madinah, untuk menjadi pedoman bagi umat yang paling mulia, mereka yang mengajarkannya serta mempelajarinya menjadi orang-orang yang mulia, demikian pula sekolah atau madrasah yang mengimplementasikannya dalam kurikulumnya menjadi madrasah yang mulia pula.

Al-Quran menjadi kitab suci yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihafal. Karenanya, sangat rugi jika otak dan hati putra-putri kita tidak diisi dengan Al-Quran sejak dini. Mengapa demikian, karena itulah benih kemuliaan dan kebijaksanaan yang kita semai di dalam diri mereka. Kemuliaan dan Kebijaksanaan adalah dua kata yang disandingkan langsung oleh Allah SWT dengan Al-Quran; "Wal Quranil Hakim", "Wal Quranil Majid" (lihat QS.Qaaf;1 dan QS. Yaasiin:2). Hasilnya, tidak akan ada yang hidup menderita dengan Al-Quran; "Dan tidaklah kami turunkan Al-Quran kepadamu untuk membuat kamu menderita" (lihat QS.Thaha:2).

Inilah pondasi pendidikan terbaik, Al-Quran. Di sekolah tempat saya mengabdikan ilmu, ada sekelompok guru Tahfizh Al-Quran yang menggagas program untuk mengontrol hafalan Al-Quran anak didiknya. Gagasan ini dibangun sekitar tahun 2009 atau 2010 yang lalu. Konsep program ini dimaksudkan agar program tahfizh harian menjadi semakin kuat, sebab jika tidak dikondisikan maka hafalan yang mereka peroleh setiap hari, di ruang kelas, akan pudar oleh lingkungan yang tidak "memaksa" mereka untuk murajaah atau mengulangi hafalan.

Maka resmilah program ini diluncurkan, isinya adalah rangkaian waktu yang terorganisir untuk memberikan kesempatan para siswa ditasmi' hafalannya, agar siap dinominasikan untuk mengikuti ujian "sekali duduk" dengan kekeliruan yang sangat sangat minim. Ujiannya bukan semacam munaqasyah dengan penggalan-penggalan ayat, akan tetapi betul-betul dirunut dari ayat pertama sampai ayat terakhir juz, dengan kriteria kekeliruan yang telah dibatasi. Lewat dari batas kekeliruan yang ditetapkan, maka belum bisa lulus dan mendapatkan sertifikat.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah bagi para guru Al-Quran. Mereka harus meluangkan waktunya lebih banyak, termasuk di luar jam pelajaran. Mereka menyimak, memperbaiki bacaan, mengukur dan mempersiapkan siswa agar siap diuji dalam satu tempo waktu. Jika lulus dalam sekali duduk dan dalam satu tempo waktu dengan kesalahan yang sangat minim, maka mereka berhak mendapatkan sertifikat hafalan, semacam ijazah yang menjadi bukti fisik bahwa mereka benar-benar hafal.
Belakangan, ternyata sertifikat semacam itu menjadi sangat penting, karena bisa menjadi semacam syafaat untuk menempuh jalur prestasi bagi jenjang pendidikan berikutnya, atau bahkan untuk mendapatkan dana pendidikan semacam beasiswa dari lembaga-lembaga tertentu.   

Suatu waktu, saya pernah kebagian tugas menguji siswa kelas 6, saat itu juz yang mereka ajukan adalah juz 21. Luar biasa, siswi yang saya tes seakan sedang berada di jalan tol tanpa hambatan, tanpa jeda yang berarti mulai dari surat Al-Ankabut sampai Al-Ahzab, tuntas dalam durasi 25 menit. Ini betul-betul 25 menit yang membuktikan, karena bacaannya benar dan lancar. Biasanya durasi sesingkat ini hanya bisa ditempuh kalau sedang membaca juz amma alias juz 30.

Namun, di lain waktu saya juga pernah kebagian menguji anak-anak kelas 1, juz hafalan mereka adalah juz 30. Wajah imut dan bibir mungil mereka membuat saya malu, betapa dulu di usia mereka, saya baru belajar mengenal huruf hijaiyah. Jadi, orang tua mereka harus bangga, tanpa mereka sadari, putra dan putri kecil mereka mampu menuntaskan hafalannya dengan baik, tiap surat dalam juz amma ditasmi' dengan runut.

Mungkin dalam hati para orang tua itu bertanya-tanya, bagaimana cara guru mereka membuat anaknya bisa hafal seperti itu?, atau mungkin mereka heran; kok anakku hafal ya?, kapan dia menghafalnya?. Tak perlu heran karena Allah langsung yang menghimpun Al-Quran di dalam hati anak-anak mereka, Ar-Rahmaan...'allamal Quran (Dialah Allah yang Maha Rahman, Yang mengajarkan Al-Quran).
A.P.K. 11.02.18 




Posted by etalase44 On 05.30 1 comment READ FULL POST

Sabtu, 10 Februari 2018

Kisah ini nyata,terjadi pada zaman Nabi SAW. Dirangkum dalam hadits oleh Abu Said Al-Khudri, ada juga dari Abu Hurairah, ada juga dari Anas.

Saat itu, ada seorang pengembala sedang mengembala kambingnya. Kalau dalam riwayat Abu Hurairah, pengembala itu adalah seorang Yahudi. Sedangkan dalam riwayat Abu Said, hanya disebutkan ia seorang Arab pedalaman. Sementara dalam riwayat Anas, ia menceritakan bahwa itu kambing-kambingnya. Saya akan mengolah cerita ini dengan mengambil jalur periwayatan Abu Said saja.

Kambing-kambing yang sedang digembalakan itu tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan seekor Srigala, ia langsung menerkam salah satunya. Si pengembala yang menyadari itu, langsung menghalaunya, berteriak kuat agar srigala itu takut, dengan segala upaya akhirnya si pengembala berhasil merebut kembali kambingnya dari cengkraman Srigala.

Tiba-tiba, Srigala itu berbalik, ia duduk dengan meletakkan ekornya di tengah kakinya dengan bertelekan kaki depannya. Dengan sikap tegap ia menghadap ke arah si pengembala dan tiba-tiba ia berbicara; "Tidakkah kau bertakwa kepada Allah? Kau telah merebut rizki yang telah Allah berikan kepadaku?.

Srigala itu protes. Rizkinya telah dihalangi oleh si pengembala, padahal ia telah menempuh jalannya, dan memang itulah makanannya. Lelaki itu kaget bukan kepalang, ia bersumpah baru hari itu ia melihat ada Srigala berbicara kepada manusia.

Akhirnya, lelaki itu kembali ke Madinah, setelah membereskan kambingnya ia datang menemui Nabi SAW. Ia ceritakan kepada beliau. Lalu dihadapan semua sahabat yang hadir, Nabi SAW membenarkan kejadian yang dialami lelaki tersebut, ia pun masuk Islam. Lalu Nabi SAW bersabda; bahwa itu adalah tanda-tanda menjelang kiamat, di mana hewan buas dapat berbicara kepada manusia. bahkan kelak seseorang akan keluar meninggalkan rumahnya dan dia tidak akan pulang sampai tali sandalnya berbicara menceritakan kepadanya apa yang telah dilakukan keluarganya sepeninggalnya.

(A.P.K.10.02.18/Diolah dari Kitab Syamail Ar-Rasul/Bahasan: Qhissatu Adz-Dzi'ib Wa Syahadatuhu bi Ar-Risalah)
Posted by etalase44 On 02.58 No comments READ FULL POST

Kamis, 08 Februari 2018

Syeh yg "tak pernah" duduk...
*****************************
Mengajar adalah tugas untuk berbagi ilmu, wawasan,pengalaman,teladan, dan hal hal yg bermanfaat lainnya. Jadi mengajar itu tugas berbagi, bukan tugas memintarkan. Saya pernah dengar, kalau niatnya memintarkan maka sang guru akan menjadi kesal, jadi tdk ikhlas, jika anak muridnya tdk bs dipintarkan atau menjadi pintar. Doakan saja anak murid agar Allah lapangkan dadanya utk ilmu dan kebaikan, Itulah mengapa Rasulullah pernah bilang (dlm makna hadits) "saya ini cuma membagikan (ilmu), Allah SWT lah yg memberi".
Mengajar anak anak tingkat dasar, satu jam pelajaran durasinya 35 menit. Biasanya satu kali pertemuan kegiatan belajar digabung dua jam pelajaran, jadinya 70 menit.
Suatu ketika, sekolah kami kedatangan guru delegasi dari Mesir. Tugasnya untuk mengajar dgn masa tugas beberapa tahun, sebagai penutur asli bahasa Arab sekaligus simbol kerjasama program pendidikan. Kami biasa menghormati mereka dgn sebutan Syeikh; artinya orang yg dituakan, dihormati, dan memiliki pengetahuan agama yang mumpuni.
Sosok syeikh kali ini menurut saya agak berbeda, soal penguasaan materi itu sudah pasti, hafal AlQuran, ahli agama, dan pakar kebahasaan, namun satu hal yg membuat saya takjub adalah teknik dan metode beliau dalam mengajar anak kecil. Betul betul memberikan pemahaman dan penyerapan yang baik bagi anak anak. Sekali lagi, bagi anak anak. Karena yg beliau hadapi dlm ruang kelas adalah anak anak kecil kelas 6 MI.
Karenanya, setelah beberapa kali pertemuan mengajar, beliau sdh tdk mau lagi saya temani sebagai penerjemah, katanya; jika ada penerjemah anak2 akan bergantung kpd saya. Alhasil, setelah sesekali sy "intip" ternyata anak anak sdh sangat menikmati belajar dengan syeikh, walaupun tdk paham utuh secara dialog Arab, tapi trnyata anak2 paham begitu sy review pada hari lainnya. Ternyata betul, "keterpaksaan" anak anak tanpa penerjemah telah membuat mereka beradaptasi dan terkondisi utk berkomunikasi dgn syeikh. Otak anak anak memang masih encer.
Cerita punya cerita, beliau sdh lebih 30 tahun berkecimpung di dunia pendidikan semacam ini. Berarti secara usia umur dan pengalaman sdh sangat luar biasa. Salah satu nasehatnya yg unik kpd saya; "lihatlah sy mengajar, sy tdk pernah duduk, setiap anak mendapat bagiannya utk diskusi dan dialog dgn saya. Jika jam mengajar 35 menit, sdngkan jumlah anak ada 30 orang. Itu brarti masing masing berhak mndapat lebih kurang satu menit menyerap pelajaran dari guru. Satu menit...ya satu menit..., Jadi, jika guru tdk mengajar dgn baik, berapa anak yg kehilangan haknya. Jika seperti itu yg kita lakukan, betapa waktu mengajar itu sangat singkat dan tak terasa jam pelajaran berlalu cepat".
Pengalaman luar biasa dgn syeikh. Beliau yg jauh usianya di atas saya, hampir tdk pernah duduk saat mengajar. Semua anak mendapatkan sesi transfer ilmu dari beliau. Dan semuanya merasa rindu untuk diajari oleh Syekh. Hari Senin mereka selalu bertanya "Syeikh mana ustadz?.
A.P.K. 09.02.18
Posted by etalase44 On 22.24 No comments READ FULL POST
🌳Tulisan ringan tentang;
 Hidden Curriculum.πŸƒ

Dalam pendidikan, tdk semua kurikulum ditampakkan. Ada jg yg tersembunyi. Itulah yg disebut pembiasaan.

Salah satu pembiasaan yg baik adalah berbaris tertib di halaman sekolah, di pagi hari, tentunya diisi dgn kegiatan yg bermanfaat. Misalnya mengulangi hafalan ataupun pelajaran.

15 menit di pagi hr sudah cukup, berikut ini bberapa manfaatnya;

1. Syiar kebersamaan siswa dan guru, doa, iqrar dan zikir pagi bersama.

2. Menghirup udara segar di pagi hari.

3. Menikmati cahaya matahari pagi utk masa pertumbuhan anak anak.

4. Melihat keceriaan anak anak di pagi hari.

5. Semangat mendemontrasikan hafalan dan murajaah.

6. Mudah mendeteksi siswa dan guru yg terlambat.

7. Menjadi ajang unjuk kemampuan siswa.

8. Menjadi hidden curriculum dalam menanamkan pembiasaan yg baik kpd siswa.

9. Membangkitkan semangat di pagi hari sehingga anak2 bergerak dan bergerak. Demikian jg guru2nya ikut bergerak dan berteriak dgn semangatnya...

🎞🎞🎞🎞
Sisi minusnya mnurut sy;
1. Adakalanya malas ke lapangan (bg yg telat)
2. Muncul anggapan bukan kgiatan formal (bg yg monoton suka di kelas).
3. Agak molor di jam pertama jika berbarisnya kelamaan.

A.P.K.05.02.18.
Posted by etalase44 On 22.16 No comments READ FULL POST
Hari ini sy mengajar 8 JP. Jam pelajaran pertama sy di salah satu kelas pararel kelas 6. Di banding kls 6 yg lain, ini kelas yg trmasuk tenang, anak2nya tdk bnyak mengobrol ataupun asyik sendiri. Kalopun ada yg tiba2 ngobrol, diingatkan sekali sdh kmbali fokus.

Setelah mngecek kehadiran, tiba2 sy ingin menanyakan bagaimana mereka menyambut pagi ini. Satu persatu saya cek, mulai dr jam brp bangun tidur, lalu sholat subuh atau tidak, sholatnya di rmh atau ke masjid, dst.

Hampir semua jawaban standar. Bangun jam lima, atau setengah lima, ada jg yg setengah enam, bahkan ada yg jam enam...tapi ada juga yg bangun jam empat, itupun karena mngkin jarak rumahnya yg paling jauh. Supaya datang tdk telat.

Setelah sy tanya secara acak dan hmpir semuanya mnjawab sama. Tibalah giliran satu anak yg memberikan jwaban berbeda, "ana (sy) bangun setengah empat ustadz, ana solat tahajjud ustadz",,, sontak derai tawa teman2nya memenuhi kelas. Karena memang anak ini dlm pandangan kasat mata nampak bukan sperti ahli ibadah ataupun ahli pelajaran (baca; berprestasi), bahkan bs di bilang acap kali agak usil, ngasal, dan ngocol.

Saya pun terkesima dgn jawabannya, bs dibilang kaget. Wow...dia tahajjud...wajah kanak kanaknya menunjukkan bhw dia jujur. Sy puji dia, sy banggakan dia di dpn smua teman2nya yg td berderai tertawa.
Saya mendadak ingat; inilah mngkin cara Allah ingin menunjukkan bukti "dia yg tak dianggap dan tak dikenal dibumi,,, tapi ternyata dikenal penduduk langit".

Saya doakan dia mndapat keberkahan. Hebat orang tuanya. Semoga anak2 yg lainpun rindu ibadah, rindu masjid, rindu menunggu sholat berikutnya setelah sholat yg ia lakukan.

Quote:
Didik anak rindu ibadah dgn membiasakan ke masjid. Bukan menjauhkan mereka dr masjid hanya karena alasan2 yg tdk krusial".

A.P.K. 08.02.18
Posted by etalase44 On 22.15 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text