Jumat, 16 Februari 2018

Hidup itu banyak dinamikanya. Di dalam kamus, dinamika itu artinya gerak terus-menerus yang dapat menimbulkan perubahan. Sesuatu yang bergerak itu biasanya menimbulkan sentuhan, gesekan, benturan, dst, kalau tidak demikian, maka tidak ada gerakan, alias diam. Sesuatu yang diam, jika terlalu lama mendekam akan berbau, berdebu, tumpul, dan usang dengan sendirinya. Sebaliknya, sesuatu yang bergerak akan memunculkan riak-riak, getaran, aus, ataupun perpecahan.

Pernah suatu masa, ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah SAW. Dia merasakan hubungannya dengan suami kurang romantis dan tidak harmonis. Suaminya itu tukang jahit bahan-bahan dengan material kulit. Karena terlalu fokus pada pekerjaannya, perempuan itu merasa kurang perhatian dari sisi biologis, mungkin kata orang sekarang, jarang dibelai, saking kesalnya ia katakan bahwa suaminya seperti perempuan.

Sebagai seorang pemimpin dan yang dituakan, Rasulullah bersikap arif, "hadirkan kemari suamimu", ujar beliau. Setelah ia datang, beliau tanyakan; "Menurutmu, apa yang bisa kau katakan tentang diri istrimu ini". Lelaki itu menjawab; "Demi Dzat yang telah memuliakan engkau, kepalaku tidak pernah kering karena dia". Mendengar itu, istrinya langsung menukas; "Dia hanya datang sekali dalam sebulan wahai Rasulullah".

Setelah acara dengar pendapat itu:), Rasulullah SAW lantas bertanya; "apakah kau masih marah pada suamimu?, "Ya, tentu saja", jawabnya. Maka Rasulullah SAW segera mengambil tindakan, "Dekatkan kemari kepala kalian berdua", setelah dekat beliau menempelkan kening istri tersebut kepada kening suaminya, kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, rekatkan hubungan mereka berdua, ya Allah buatlah keduanya saling mencintai"

Cerita ini bukan drama yang dibuat-buat, tapi melukiskan kepada kita, bahwa sebaik-baik pertengkaran adalah yang berakhir dengan kecintaan. Tapi memang butuh orang tua atau orang yang dituakan, atau penengah atau orang yang bisa berada di tengah-tengah, menyuarakan kedamaian dan membawa pada kemaslahatan. Acap kali pertengkaran itu mudah terjadi pada mereka yang sebaya, seusia, seangkatan, seprofesi, sepekerjaan, tapi jika ada yang dituakan, dihormati, disegani, yang berani memegang dua kepala mereka yang sedang bertengkar, menyatukan kening keduanya, maka akan cepat teratasi dan kembali kepada kecintaan dan silaturahim. Kata para ulama; Al-Adab fawqa Al-ilmi (Adab itu di atas ilmu), sedangkan kata Abdullah bin Mubarak; Aku belajar adab 30 tahun, aku menuntut ilmu 20 tahun". Karena mereka sadar, adab itulah yang akan membawa pada cinta setelah pertengkaran.

Beberapa hari berikutnya, Rasulullah SAW bertemu lagi dengan perempuan tadi di pasar. Lalu beliau bertanya, "Bagaimana kini keadaanmu dan suamimu? dia menjawab: "Demi Dzat yang telah memuliakan engkau, tidak ada barang yang baru maupun yang lama yang aku cintai, melebihi cintaku pada suamiku". Subhanallah, Sungguh beliau adalah utusan Allah, doa beliau tak ada yang tak manjur, jika ingin mencobanya, begini lafazh arabnya : اللهم ألف بينهما و حبب أحدهما إلى صاحبه

Hari ini, selepas khutbah Jumat tadi, seorang jamaah berdiri menyalami, sambil menjabat tangan dia berbisik; "Ustadz, tadi makhrajnya ada yang kurang pas", Saya tersenyum, sembari menjawab "terima kasih pak, sudah diingatkan". Dalam hati saya, ini contoh orang beradab, yang tidak suka bertengkar, yang memperbaiki dengan kebaikan dan cara kebaikan.

Wallahu'alam, A.P.K. 16.02.2018


Posted by etalase44 On 02.01 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text