Masih ingat dengan kisah Juraij. Sebuah kisah nyata keampuhan doa ibunda yang terabadikan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Sekedar review, saya akan menceritakannya kembali berikut ini.
Juraij, dia adalah ahli ibadah, bahkan ia memiliki tempat khusus untuk beribadah sehari-harinya. Suatu ketika, ibunya datang menemuinya. Saat tiba di kediaman Juraij, sang ibu mendapati anaknya sedang khusyuk melakukan ibadah sunnah. Ia memanggil Juraij, namun sang anak tetap tenggelam dalam ibadahnya.
Doa ibu menembus langit, pengabulan pun diberikan Allah SWT. Hingga akhirnya Juraij mendapatkan cobaan yang dimaksud dalam doa ibunya. Ia kedatangan seorang pelacur yang menggodanya ketika sedang beribadah. Ia pun merasakan fitnah yang luar biasa, sebuah tuduhan kotor menghinggapinya, anak yang dilahirkan oleh si pelacur dituduhkan sebagai hasil hubungan badan antara Juraij dengan pelacur tersebut.
Peristiwa fitnah ini terus bergulir, hingga akhirnya Allah SWT mengakhiri cobaan tersebut. Allah SWT menyelamatkan Juraij dengan menunjukkan kebenaran bahwa perbuatan pelacur tersebut hanyalah fitnah, dan bahwa bayi yang dilahirkannya bukanlah hasil perbuatan kotor dengan Juraij, melainkan hasil hubungannya dengan seorang pengembala.
Keampuhan doa seorang ibu demikian juga dengan ayah, haruslah membuat kita sebagai orang tua, berhati-hati dalam melampiaskan kekesalan pada anak menjadi suatu laknat. Ibarat dongeng Si Pahit Lidah, apa yang diucap maka petaka yang terjadi.
Saat kesal kepada anak, bawalah hati kita kembali mengembara ke masa lalu, di saat masih menjadi pengantin baru. Bulan-bulan pertama menjadi pengantin adalah bulan di mana telinga terasa panas mendengarkan berbagai pertanyaan orang; “istrinya sudah isi belum?, sudah hamil belum? Wah, kok belum isi-isi juga ya?”.
Lalu kita mendapatkan karunia anak, luar biasa bahagianya. Sang istri merasa bahwa dia telah sukses menjadi ibunda dan mampu membuktikan bahwa dia bukan wanita mandul. Sementara sang suami pun merasa perkasa, telah terbukti kejantanannya sebagai lelaki sejati, dan bahwa ia siap menjadi seorang ayah yang menanggung nafkah beberapa nyawa di dalam rumah tangganya.
Hebat bukan, ternyata anak telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa bagi kedua orang tuanya. Berkat anak, sepasang pengantin ditasbihkan menjadi orang tua. Tak ada lagi orang yang akan mencemooh kemampuan biologis keduanya. Lalu si anak tumbuh, kenakalannya sebagai anak (baik ia masih kecil atau sudah dewasa) kerap membuat kesal orang tua. Lalu orang tua marah, melampiaskan kekesalannya dengan berjuta amarah, ia lupa bahwa berkat anaklah ia dahulu merasakan berjuta bahagia.
Sampai disitu, kita masuk ke kisah yang lain, juga tentang keampuhan doa orang tua. Dan menurut saya, ini harus kita tiru dalam upaya mendidik dan membesarkan anak-anak tercinta.
Ada seorang imam besar yang populer, suaranya saat menjadi imam sholat menambah kekhusyukan, beliau adalah imam Abdurrahman As-Sudais, salah seorang imam besar di Masjidil Haram.
Dikisahkan bahwa saat ia masih kanak-kanak, ia juga tidak terlepas dari kenakalan sebagai seorang anak. Dan ibunya, tentu saja tidak membiarkan kenakalan itu melampaui batas. Setiap kenakalan yang diperbuat anaknya, ia langsung arahkan dengan teguran yang mendidik. Ia marah kepada anaknya, namun kemarahan yang mendidik, bukan kemarahan yang mengecilkan hati sang anak. Dan hebatnya lagi, setiap kali ia menegur atau memarahi Sudais kecil, sang ibu melantunkan sebuah doa “Sudais!, jangan nakal, ibu doakan kamu menjadi imam Masjidil Haram!”.
Subhanallah, doa ibu menembus lapisan langit, mengguncang Arsy Allah SWT. Dan sudah menjadi janji-Nya bahwa doa orang tua, apalagi doa ibu, tarafnya satu level dengan doa seorang Nabi. Allah SWT kabulkan. Dan kini kita dapat saksikan bahwa beliau telah merasakan keampuhan doa ibunya, ia menjadi seorang imam besar di Masjidil Haram.
Menjadi orang tua akan membawa berkah jika setiap ucapan kita adalah doa kebaikan untuk sang anak. Betul, bahwa anak dituntut untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tua, bahkan tuntutan itu disandingkan Allah SWT dengan kewajiban beribadah kepada-Nya. Namun disisi lain, sebagai orang tua, kita harus mendoakan anak agar ia pandai berbakti, taat beribadah, luhur akhlaknya, dan tidak dijadikan objek kekesalan orang tua. Semoga bermanfaat
(Dua Kisah diatas diolah dari buku ; Ada Surga di rumahmu, 7 Keajaiban Orang Tua-Cara cepat sukses di dunia dan di akhirat, klik here)
Artikel terkait, baca juga disini
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel terkait, baca juga disini
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------








0 komentar:
Posting Komentar