Rabu, 15 Januari 2014

“Sungguh, jika sifat ghurur telah ada pada suatu kaum
 Maka ia tak lebih dari serumpun bunga yang ditanam di atas kuburan”
( Penyair Mesir: Ahmad Syawqi”)

Ghurur, adalah bagian dari wujud ketertipuan yang selalu bergerak secara sporadis dan rentan tak terdeteksi. Ia hadir dalam setiap perasaan manusia yang cenderung selalu ingin dipuji dan haus akan apresiasi. Karena ghurur adalah perasaan berbangga diri yang menipu, sebab ia telah merasa lebih dan merasa tak tertandingi, ia adalah gelagat jiwa yang mulai merayap melupakan firman Tuhannya “wa fawqo dzi ilmin aliim..”, atau dalam pribahasa kita “bahwa di atas langit masih berlapis langit-langit lainnya”.

Dan sifat inilah dulu yang selalu dikalungkan Fir’aun pada lehernya, yang dijadikan Qorun gembok pengunci gudang hartanya, yang dijadikan kaum Saba’ sebagai pondasi kehidupan mereka, dan yang dibalutkan Tsa’labah pada gemerlap kekayaannya. Seperti air hujan yang menyirami kebun kaum kafir sehingga mereka berbangga akan kesuburan tanamannya, namun mendadak mereka tercengang ketika melihat tamanannya yang tadi indah dan bernas, kini berubah menjadi gersang, kering dan hancur, padahal  itu adalah teguran sayang dari Allah disebabkan mereka tertipu dan enggan menyembah Dzat yang telah menurunkan hujan bagi tanaman-tanaman mereka (baca Q.S. al-Hadid:20).

Maka, inilah bentuk ketertipuan yang sejati . Tertipu untuk menyatakan rasa syukur dan amal-amal ubudiyah kepada Rabb semesta, dan itu semua tak lain karena terlalu mengidentifikasikan diri dengan materi, dengan kekuasaan, dengan pujaan, ironisnya ia hanya merasa bermakna jika memiliki semua itu, maka selamanya ia memerlukan materi-materi tersebut dan sulit baginya untuk merendah dan tawadhu’.

Entahlah, mengapa kita sulit meniru Umar ra yang bisa tertidur pulas di bawah pohon, di alam terbuka, tanpa harus repot memproteksi diri dengan memasang perangkat dan sistem keamanannya. Itu semua karena keadilannya, ia semakin meninggi ketika ia merendah, ia tak tertipu oleh kekuasaannya, ia tak manja ketika semua orang menghormatinya, ia tak terbelenggu dengan bayang-bayang keghururan, dan ia tak  menjadi bunga di atas kuburan, terlihat indah mekar dengan semerbak wangi yang menyebar namun ternyata di bawah rumpunnya yang indah hanya terbujur seonggok jasad yang tak lagi memiliki desah kehidupan, tak lagi mempunyai wujud gerak yang diharapkan. Wallahu’alam-*Abdi-PK*

Posted by etalase44 On 20.30 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text