Pernah melihat di Televisi atau di acara-acara seremonial, karpet merah yang membentang panjang?, lalu di atasnya berjalan orang-orang penting, populer, hebat. Ya, mereka adalah tamu-tamu kehormatan alias VVIP (very very important person).
Karpet merah menyala yang membentang panjang itu adalah sebuah simbol pengakuan kesuksesan bagi siapa saja yang berjalan di atasnya. Bagaimana ceritanya?
Konon, seorang pahlawan dalam legenda Yunani kuno kembali ke kotanya setelah memenangkan perang Trojan, pada tahun 458 SM. Pahlawan itu bernama Agamemnon. Ia pulang dengan kepala tegak dan berjalan dengan gagah perkasa.
Sesampainya di Istana, ia disambut sang istri dengan bentangan karpet merah. Tidak ada yang tahu dari mana sang istri memiliki ide tersebut. Namun baginya itu adalah simbol penghargaan bagi suaminya yang pulang perang dengan membawa kemenangan.
Walau dalam penyambutan itu Agamemnon enggan berjalan di atas karpet tersebut, karena ia beralasan hanya "dewa" yang berhak atas penghargaan yang sangat istimewa itu. Namun akhirnya di dunia modern, simbol penyambutan istimewa itu menjadi sangat populer, dan pertama kali hal tersebut diterapkan pada saat pemberian penghormatan kepada presiden Amerika Serikat, yang kala itu pada tahun 1821 datang mengunjungi suatu tempat.
Lalu adakah yang akan menggelar karpet merah bagi kita? belum tentu!, sebab karpet merah itu akan terbentang bagi kita, jika kita telah mengawalinya terbentang di dalam diri kita sendiri. Bagaimana caranya?
salah satu caranya adalah dengan mencoba untuk berfokus pada keunggulan yang kita miliki. Seorang pakar psikologi analitis, Carl Gustav Jung menyatakan bahwa di antara semua fungsi dasar manusia, hanya ada satu yang dominan, itulah yang disebut sebagai mesin kecerdasan. Jika selama ini kita sering mendengar konsep "semua bisa", maka cobalah kini untuk mengatakan "satu tapi hebat". Ya, kita memang memiliki banyak fungsi dasar atau multi kecerdasan, namun di antara yang banyak itu ada satu yang mendominasi dan kerap digunakan. Jika itu berhasil kita mantapkan maka kita akan menjadi sosok "expert".
Untuk menjadi "expert" kita harus bisa menata DNA kehidupan. Ingat bahwa DNA tubuh bisa direkayasa, maka demikian juga dengan DNA kehidupan kita. Untuk bisa merekayasanya, maka kita harus memahami dulu unsur-unsur yang menjadi pembentuk kehidupan, yaitu; kapasitas otak, sistem operasi otak, dan budaya otak.
Kapasitas dan sistem operasi otak adalah "Given" dari Tuhan, sedangkan budaya otak, masih dapat diprogram. Sebab budaya otak adalah koleksi historis dari kejadian berulang terhadap sel-sel otak sehingga otak memiliki budaya tertentu. Dalam sebuah seminar "Cara mengoptimalkan masa emas anak" seorang pakar yang menjadi nara sumber memberikan contoh kasus dari pembentukan budaya otak adalah seperti ini; seorang ibu memarahi anaknya karena mengambil kue temannya. Sang ibu marah sambil mencubit si anak. Lalu kejadian serupa terulang lagi hingga beberapa kali, dan setiap kali sang ibu marah, dia selalu mencubit anaknya. Maka perbuatan yang berulang demikian telah membentuk "budaya otak" anaknya. Kelak ketika si anak menjadi ibu, dan memarahi anaknya pula, ia secara otomatis akan melakukan "budaya otak" yang telah terbentuk pada dirinya, yaitu marah sambil pula mencubit anaknya.
Semoga kita mencapai semua kesuksesan yang kita impikan. Amin. (By.Abdi PK)
(Bacaan: DNA Sukses Mulia, Kubik Training & STifin Personality, catatan dari sebuah seminar )








0 komentar:
Posting Komentar