Damai dan akrab, itulah deskripsi pertama dari “salam-assalamualaikum warahmatullah wa barakatuhu”. Lukisan nilai persaudaraan dan persahabatan akan sangat nampak, saat bibir kita melafazkannya dengan penuh ketulusan.
Salam adalah bukti betapa keberadaan kita sesungguhnya disenangi oleh orang lain dan ingin selalu merasa dekat dengan orang lain. Ia adalah awal dari tumbuhnya benih kecintaan, menjadi subur lalu tumbuh membentuk batang-batang persaudaraan yang kokoh, berakar nurani, bercabang kasih dan terus tersirami oleh bening-bening ilahi;
“Setiap kita ada penyakit , dan obatnya adalah keluwesan, bukan pada perpecahan yang memutuskan sebuah jalinan” (Imam As-Syafi’i).
Keluwesan adalah password dalam pergaulan, sedangkan salam adalah password cinta. Ia lahir lewat keramahan yang tercerahkan melalui ketulusan, lalu membuahkan jalinan kasih yang tak terputus. Lihatlah, ketika para “tamu agung” dari langit (Malaikat) datang mengunjungi Nabi Ibarahim as, salam adalah kata pertama yang mereka lafazkan.
Dulu, saat Adam as baru diciptakan, salam menjadi ungkapan dan sapaan kasih yang Allah SWT perintahkan kepadanya untuk ia lantunkan di majlis para “makhluq-makhluq cahaya” (baca;malaikat), lalu kemudian mereka pun menjawabnya dengan satu lafaz tambahan “dan atasmu rahmat dan berkah Allah”, sebuah perpaduan yang bernada indah antara doa kesejahteraan dari sesama makhluq dan harapan rahmat serta keberkahan dari Sang Khaliq .
Lalu karena penghargaan yang sangat tinggi terhadap salam, maka Allah SWT mensyariatkannya sebagai “kunci rumah” untuk masuk ke rumah sendiri, apalagi untuk bertandang ke rumah orang lain.
Karena tingginya nilai salam itulah, Rasulullah SAW merelakan dirinya tidur di emperan rumahnya sendiri saat beliau pulang larut malam, namun Aisyah tak mendengar ketukan salamnya yang telah terucap tiga kali.
Saat salam dilapazkan, rasa tenang dan aman akan terpancarkan. Karena kita yakin, orang yang mengucapkannya pun mengidamkan sebuah kedamaian dan ketentraman. Sesungguhnya membudayakan salam dalam keseharian adalah bukti dari terciptanya surga dunia, karena salam adalah kata-kata manis para penduduk jannah “wa tahiyyatuhum fiha salam”.
Kita mesti banyak belajar dari kehidupan penduduk Muslim di negeri-negeri Islam lainnya. Mereka tak segan-segan mengucap salam saat naik atau turun angkot dan bis-bis umum, saat duduk bersebelahan atau berpapasan dengan orang yang tak dikenalnya atau pun dalam keadaan-keadaan lain dimana mereka mempunyai kesempatan untuk bisa mengucapkan salam dengan satu keyakinan bahwa dengannya ia bisa meraup berjuta pahala dari yang maha kuasa dan inilah yang dulu pernah dipraktekkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang rela berkeliling pasar hanya untuk satu tujuan “berbagi keberkahan, menuai kecintaan dan keredhoan dengan salam”.
“Ia adalah pengikat cinta
dalam simpul iman
berlapis kasih dan berkah Ilahi
berbuah nikmat di lazuardi syurgawi”
Dari Abi Hurairah RA. Ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan bisa beriman hingga kalian bisa saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu amalan yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkan lah salam di antara kalian (HR Muslim).
*Abdi PK*








0 komentar:
Posting Komentar