Dari Umar bin Abi Salmah ra. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :” Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu…”
Urusan perut jika kita letakkan dalam sebuah diagram struktur kebutuhan jasmani niscaya ia akan menempati posisi yang paling teratas. Sebab hanya gara-gara urusan yang satu ini betapa banyak orang yang merelakan dirinya untuk memakan barang yang bernilai sama dengan sesuatu yang telah menjadi sisa-sisa metabolisme tubuhnya (baca ; dalam hal keharaman dan kenajisannya). Ia tidak peduli apakah makanan yang ia konsumsi itu halal dari sisi zat atau cara mendapatkannya. Ia juga tidak mau tahu apakah makanan itu berkah atau tidak, cara ia mengkonsumsinya sesuai dengan sunnah atau tidak, pokoknya yang penting kenyang semuanya ditelan.
Rasulullah pernah mengisahkan seseorang yang selalu berdoa dengan harapan apa yang ia pinta akan dikabulkan Allah, tapi tenyata harapan tersebut hanya sia-sia belaka sebab ternyata ia tidak memiliki sesuatu yang bernilai halal dari sandang dan pangannya, “ Dan makanannya haram, minumannya juga haram, yang ia pakai juga haram, maka bagaimana mungkin apa yang ia pinta dalam doanya akan dikabulkan..” begitu penggalan komentar Rasul dalam sabdanya yang mengisahkan pola hidup lelaki tsb.
Kehalalan makanan adalah sesuatu yang paling urgen, karena daging yang tumbuh dari barang yang haram hanya layak menjadi bahan bakar Neraka. Kehalalan adalah awal dari keberkahan, dan keberkahan itu ibarat pohon kebaikan yang akan membuahkan ketenangan dan nilai-nilai ma’ruf dalam jiwa dan perilaku setiap individu.
Awal keberkahan tadi akan muncul ketika kita memulai segala sesuatu dengan mengucap nama Allah SWT karena itu merupakan bentuk pengakuan bahwa apa yang kita dapatkan adalah karunia dari sisi Allah yang patut kita syukuri, terlebih lagi di saat kita menikmati makanan. Dan mungkin karena sangat pentingnya hal tersebutlah maka Rasul menegaskan jika kita lupa mengucap “bismillah” di awal suapan maka hendaklah mengucap “Bismillahi awwaluhu wa akhirihu” ketika kita teringat ditengah-tengah lahapan.
Itulah awal keberkahan makanan, dan itulah kunci yang akan menutup segala bentuk campur tangan syetan yang tak segan-segan menodai setiap suapan jika kita lupa mengucap nama Allah SWT. “Dialah yang memberi makan, dan jika ku sakit Dia pulalah yang menjadi penyembuhku..”
Selanjutnya, ada satu sisi kelemahan yang terkadang masih lolos dari kendali iman dan komitmen syukur kita. Ya,keterlenaan itu muncul tatkala “si pengecap rasa” bersentuhan dengan makanan yang tak membangkitkan selera, apalagi jika rasanya sama sekali tidak nikmat di lidah, “hinaan, celaan…”. Ini nyata, bahkan tanpa terkontrol kalimat itu berulang terucap dari mulut kita. Tidakkah kita sadar bahwa itu adalah pertanda dari sebuah kesombongan dan kecongkakan yang diumbar? Tidakkah kita tahu bahwa hal yang demikian adalah termasuk dari bagian kufur nikmat “ Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak sekali pun pernah mencela makanan, jika ia berselera maka beliau menyantapnya. Dan jika tidak, maka beliau cukup dengan meninggalkannya (tanpa harus mencela-pen) (HR. Muttafaq alaihi)
Suatu sikap yang patut dicontoh memang, karena disitu kita bisa melihat satu nilai tambah, yaitu kesopanan terhadap orang yang telah menyediakan makanan bagi kita, sehingga kita tidak menyakiti hatinya dengan celaan tersebut. Dan jika kita berbicara tentang kesopanan maka sesungguhnya itu adalah adab yang harus betul-betul kita jaga di saat makan, sebab dari sanalah nampak identitas hakikat kemusliman kita, olehnya Rasul mengingatkan kita untuk makan dan minum dengan menggunakan tangan kanan dan dalam posisi duduk ( walau pun suatu kali Rasul pernah juga minum dalam posisi berdiri ketika pada saat itu ia menerima pemberian air zamzam dari Ibnu Abbas) , tidak menyantap kecuali makanan yang paling dekat, dan tidak membiarkan tangan geranyangan meraih makanan yang jauh jaraknya disaat makan berjamaah. Bahkan ada satu hal yang sangat urgen yang masih sering terjadi pada perilaku kita terhadap makanan, yaitu dengan membiarkan makanan bersisa, padahal kita tidak tahu bisa jadi pada sisa itulah Allah SWT menurunkan berkahnya, oleh karena itu larangan untuk berbuat mubazir dan berlebih-lebihan sangat ditekankan dalam agama kita, dan sesungguhnya perbuatan tersebut temasuk dari tingkahl laku syetan.
Subhanallah, begitu besar pengaruh makanan terhadap segala sisi kehidupan, dan mungkin karena sebab itulah maka Rasul pun mengajarkan kepada kita untuk tidak memubazirkan secuil makanan pun yaitu dengan cara membersihkan jari-jari dengan usapan mulut untuk kemudian baru mencucinya dengan air bilasan.
Sesungguhnya berkah pada makananlah yang memberi kita hakekat rasa puas dan kenyang. Berapa banyak orang yang menyantap makanan yang beraneka ragam namun ternyata tak ada kepuasan yang ia dapatkan, sementara pada sisi lain kita juga mendapatkan orang yang hanya mengecap makanan-makanan sederhana atau sedang-sedang saja namun ternyata mereka mampu menemukan kelezatan Ilahiyah dalam setiap kunyahannya.
Dan karena itulah dulu ketika sahabat Nabi pernah merasa kehilangan kelezatan dan kepuasan Ilahiyah tersebut padahal mereka makan dengan penuh kecukupan mereka datang dan mengadu pada Rasul . Rasul pun menjawab dengan sebuah kalimat tanya “mungkin kalian makan sendiri-sendiri..?!, mereka pun mengiyakannya, lalu Rasul pun bersabda “Makanlah bersama-sama dan ucapkan nama Allah, niscaya Ia akan memberikan berkah pada santapan kalian tersebut ( HR. Abu Daud )
Ada sebuah teknik makan yang menarik dari Rasulullah SAW dimana kita dapat menikmati santapan dengan tenang dan berkah dari Allah terus berdatangan, Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah SAW bersabda : “Keberkahan itu diturunkan di tengah makanan, oleh karena itu mulailah makan dari sisi pinggirnya dan jangan dari tengahnya” ( HR.Abu Daud dan Tarmizi )
Segala puji bagi Allah yang memberiku makan, minum, dan menjadikanku sebagai muslim. (*AbdiPK*)







0 komentar:
Posting Komentar