Pertanyaannya adalah, kapan sebaiknya mulai menekuni karir.
Jawabannya adalah sejak anak usia 6 tahun. Yaitu di mana pada usia ini,
secara psikoligis anak memulai tahap perkembangan kreativitas. Maka pada
masa inilah peran kemampuan parenting orang tua sangat diperlukan. Coba
cermati, sebagian besar atlet atau artis yang difokuskan sejak usia 5
tahun mereka meraup keberhasilan yang sangat gemilang dalam karirnya.
Sebagai contoh adalah kisah Messi, bukan hanya terbiasa dengan
gol-gol hattrick di lapangan bola, akan tetapi dalam hal meraih gelar
pemain terbaik dunia pun dia mendapatkan “Hattrick”, ya selama tiga
tahun berturut-turut, dari 2009-2011, ia meraih gelar hebat versi FIFA
tersebut.
Messi kecil mulai fokus di bola sejak dia usia 5 tahun.betapa awalnya
dia merintis karir. Meskipun badannya dianggap kurang idel, namun ia tak
pernah surut, justru yang dianggap kekurangan itu ia optimalkan menjadi
kehebatan. Ya, dia menjadi pemain yang lincah dan sulit dihadang. Ia
dijuluki si kutu. Keluarganya, yang merupakan lingkungan mikronya turut
mendukung.
Dengan berfokus dan dukungan keluarga, belum genap usia 10 tahun dia telah bergabung dengan klub sepak bola
junior di Argentina. Setelah 7 tahun di sana dia naik level. dan dia
pun mencoba petualangannya di Spanyol. Hingga pada usia 13 tahun, dengan
postur badan yang masih dianggap belum ideal, dia telah tergabung dalam
Klub Barcelona Junior.
Empat tahun kemudian, dia pun masuk dalam
jajaran elit Barcelona.
Perhatikan perjalanan karirnya, dari usia lima
tahun, dia telah mantap pada posisinya, dan usia 17 tahun dia matang
dalam karirnya. Jadi kurang lebih selama 12 tahun dia ditempa dalam
latihan yang terstruktur dan fokus.
Sebagai orang tua, jika kita telah mengetahui potensi anak kita
melalui peta kecerdasannya, maka sangat baik jika kita mulai mempolakan
karirnya sejak dia berusia 5 atau 6 tahun. Jika selama 5 tahun dia
mendapatkan pelatihan atau pembelajaran yang terstruktur, maka pada usia
11 tahun dia sudah akan mendapatkan pendukung-pendukung yang akan
memaksimalkan karirnya, dalam bahasa bisnis kita sebut dengan istilah
“sponsor”. Lalu pada 5 tahun berikutnya, sempurnakan dan matangkan
kehebatannya, sehingga pada usia 16 tahun dia bukan lagi seorang yang
amatiran, namun sudah masuk kancah profesional dan telah memiliki harga. lalu menuju level-level berikutnya yang lebih tinggi.
Pembinaan karir anak seperti pola di atas,
tidak harus menghilangkan masa kanak-kanaknya yang menyenangkan. Juga
tidak harus mengkerdilkan masa remajanya yang berbunga-bunga. Tinggal
orang tua dan pembinanya yang harus memahami model pengasuhan dan
pembinaan yang mampu mengakomodir semua itu.
Ingat keberhasilan dapat disimpulkan ditentukan oleh dua faktor; kecerdasan dominan dan fokus.
Kisah Messi di atas hanya sebagai contoh. Jika diumpamakan dengan potensi-potensi lainnya, maka tidak sulit untuk menerapkannya.
Misalnya, kita telah mengetahui peta kecerdasan anak kita adalah
orang yang memiliki kekuatan memori yang besar. Artinya kemampuan
menghapalnya bagus. Maka sejak dia usia 5/6 tahun, didik dia dengan pola
hapalan Al-Quran. sebelum mencapai usia itu, pastikan dia telah tamat
pelajaran membaca huruf Arab, buku Iqra’, misalnya. Sehingga pada usia 6
tahun dia telah mendapatkan pembinaan hapalan Al-Quran. Itu merupakan
nilai dasar yang sangat bagus.Sehingga pada usia 11-16 tahun, modal
utama Al-Quran akan menjadi penyokong dia pada pelajaran-pelajaran
lainnya. Sehingga memasuki usia remaja dia tidak lagi disibukkan dengan
baru menghapal Al-Quran, tapi telah memasuki tahap-tahap lainnya yang
semakin mendukung karirnya.
Agar program seperti pola di atas terlaksana dengan memadai,maka ada pembagian peran seperti berikut ini:
Anak: Siap menghadirkan komitmen dan kesungguhan
Orang tua:
1. Memastikan ketersediaan waktu dan pergaulan anaknya untuk menikmati masa kanak-kanak dan remaja
2. Memotivasi anak agar memiliki komitmen dan kesungguhan
3. Memberikan dukungan dan fasilitas
4. Bersama dengan pembina anaknya, menjaga standar binaan dan gaya hidup anak.
Pembina/Pelatih: Mengenali mesin kecerdasan anak agar mengetahui cara membina dan melatihnya.
Ok. Semoga bermanfaat.
(disarikan dari buku STIFIn Personality- Farid Poniman)








0 komentar:
Posting Komentar