Di dalam hidup ini, salah satu yang tidak perlu diragukan lagi adalah Al-Quran. Mukjizat terbesar yang diturunkan, dibawa oleh malaikat yang paling mulia, diturunkan kepada Rasul yang paling mulia, pada bulan yang paling mulia, bertempat di dua kota yang paling mulia; Makkah dan Madinah, untuk menjadi pedoman bagi umat yang paling mulia, mereka yang mengajarkannya serta mempelajarinya menjadi orang-orang yang mulia, demikian pula sekolah atau madrasah yang mengimplementasikannya dalam kurikulumnya menjadi madrasah yang mulia pula.
Al-Quran menjadi kitab suci yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihafal. Karenanya, sangat rugi jika otak dan hati putra-putri kita tidak diisi dengan Al-Quran sejak dini. Mengapa demikian, karena itulah benih kemuliaan dan kebijaksanaan yang kita semai di dalam diri mereka. Kemuliaan dan Kebijaksanaan adalah dua kata yang disandingkan langsung oleh Allah SWT dengan Al-Quran; "Wal Quranil Hakim", "Wal Quranil Majid" (lihat QS.Qaaf;1 dan QS. Yaasiin:2). Hasilnya, tidak akan ada yang hidup menderita dengan Al-Quran; "Dan tidaklah kami turunkan Al-Quran kepadamu untuk membuat kamu menderita" (lihat QS.Thaha:2).
Inilah pondasi pendidikan terbaik, Al-Quran. Di sekolah tempat saya mengabdikan ilmu, ada sekelompok guru Tahfizh Al-Quran yang menggagas program untuk mengontrol hafalan Al-Quran anak didiknya. Gagasan ini dibangun sekitar tahun 2009 atau 2010 yang lalu. Konsep program ini dimaksudkan agar program tahfizh harian menjadi semakin kuat, sebab jika tidak dikondisikan maka hafalan yang mereka peroleh setiap hari, di ruang kelas, akan pudar oleh lingkungan yang tidak "memaksa" mereka untuk murajaah atau mengulangi hafalan.
Maka resmilah program ini diluncurkan, isinya adalah rangkaian waktu yang terorganisir untuk memberikan kesempatan para siswa ditasmi' hafalannya, agar siap dinominasikan untuk mengikuti ujian "sekali duduk" dengan kekeliruan yang sangat sangat minim. Ujiannya bukan semacam munaqasyah dengan penggalan-penggalan ayat, akan tetapi betul-betul dirunut dari ayat pertama sampai ayat terakhir juz, dengan kriteria kekeliruan yang telah dibatasi. Lewat dari batas kekeliruan yang ditetapkan, maka belum bisa lulus dan mendapatkan sertifikat.
Tentu ini bukan pekerjaan mudah bagi para guru Al-Quran. Mereka harus meluangkan waktunya lebih banyak, termasuk di luar jam pelajaran. Mereka menyimak, memperbaiki bacaan, mengukur dan mempersiapkan siswa agar siap diuji dalam satu tempo waktu. Jika lulus dalam sekali duduk dan dalam satu tempo waktu dengan kesalahan yang sangat minim, maka mereka berhak mendapatkan sertifikat hafalan, semacam ijazah yang menjadi bukti fisik bahwa mereka benar-benar hafal.
Belakangan, ternyata sertifikat semacam itu menjadi sangat penting, karena bisa menjadi semacam syafaat untuk menempuh jalur prestasi bagi jenjang pendidikan berikutnya, atau bahkan untuk mendapatkan dana pendidikan semacam beasiswa dari lembaga-lembaga tertentu.
Suatu waktu, saya pernah kebagian tugas menguji siswa kelas 6, saat itu juz yang mereka ajukan adalah juz 21. Luar biasa, siswi yang saya tes seakan sedang berada di jalan tol tanpa hambatan, tanpa jeda yang berarti mulai dari surat Al-Ankabut sampai Al-Ahzab, tuntas dalam durasi 25 menit. Ini betul-betul 25 menit yang membuktikan, karena bacaannya benar dan lancar. Biasanya durasi sesingkat ini hanya bisa ditempuh kalau sedang membaca juz amma alias juz 30.
Namun, di lain waktu saya juga pernah kebagian menguji anak-anak kelas 1, juz hafalan mereka adalah juz 30. Wajah imut dan bibir mungil mereka membuat saya malu, betapa dulu di usia mereka, saya baru belajar mengenal huruf hijaiyah. Jadi, orang tua mereka harus bangga, tanpa mereka sadari, putra dan putri kecil mereka mampu menuntaskan hafalannya dengan baik, tiap surat dalam juz amma ditasmi' dengan runut.
Mungkin dalam hati para orang tua itu bertanya-tanya, bagaimana cara guru mereka membuat anaknya bisa hafal seperti itu?, atau mungkin mereka heran; kok anakku hafal ya?, kapan dia menghafalnya?. Tak perlu heran karena Allah langsung yang menghimpun Al-Quran di dalam hati anak-anak mereka, Ar-Rahmaan...'allamal Quran (Dialah Allah yang Maha Rahman, Yang mengajarkan Al-Quran).
A.P.K. 11.02.18
Al-Quran menjadi kitab suci yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk dihafal. Karenanya, sangat rugi jika otak dan hati putra-putri kita tidak diisi dengan Al-Quran sejak dini. Mengapa demikian, karena itulah benih kemuliaan dan kebijaksanaan yang kita semai di dalam diri mereka. Kemuliaan dan Kebijaksanaan adalah dua kata yang disandingkan langsung oleh Allah SWT dengan Al-Quran; "Wal Quranil Hakim", "Wal Quranil Majid" (lihat QS.Qaaf;1 dan QS. Yaasiin:2). Hasilnya, tidak akan ada yang hidup menderita dengan Al-Quran; "Dan tidaklah kami turunkan Al-Quran kepadamu untuk membuat kamu menderita" (lihat QS.Thaha:2).
Inilah pondasi pendidikan terbaik, Al-Quran. Di sekolah tempat saya mengabdikan ilmu, ada sekelompok guru Tahfizh Al-Quran yang menggagas program untuk mengontrol hafalan Al-Quran anak didiknya. Gagasan ini dibangun sekitar tahun 2009 atau 2010 yang lalu. Konsep program ini dimaksudkan agar program tahfizh harian menjadi semakin kuat, sebab jika tidak dikondisikan maka hafalan yang mereka peroleh setiap hari, di ruang kelas, akan pudar oleh lingkungan yang tidak "memaksa" mereka untuk murajaah atau mengulangi hafalan.
Maka resmilah program ini diluncurkan, isinya adalah rangkaian waktu yang terorganisir untuk memberikan kesempatan para siswa ditasmi' hafalannya, agar siap dinominasikan untuk mengikuti ujian "sekali duduk" dengan kekeliruan yang sangat sangat minim. Ujiannya bukan semacam munaqasyah dengan penggalan-penggalan ayat, akan tetapi betul-betul dirunut dari ayat pertama sampai ayat terakhir juz, dengan kriteria kekeliruan yang telah dibatasi. Lewat dari batas kekeliruan yang ditetapkan, maka belum bisa lulus dan mendapatkan sertifikat.
Tentu ini bukan pekerjaan mudah bagi para guru Al-Quran. Mereka harus meluangkan waktunya lebih banyak, termasuk di luar jam pelajaran. Mereka menyimak, memperbaiki bacaan, mengukur dan mempersiapkan siswa agar siap diuji dalam satu tempo waktu. Jika lulus dalam sekali duduk dan dalam satu tempo waktu dengan kesalahan yang sangat minim, maka mereka berhak mendapatkan sertifikat hafalan, semacam ijazah yang menjadi bukti fisik bahwa mereka benar-benar hafal.
Belakangan, ternyata sertifikat semacam itu menjadi sangat penting, karena bisa menjadi semacam syafaat untuk menempuh jalur prestasi bagi jenjang pendidikan berikutnya, atau bahkan untuk mendapatkan dana pendidikan semacam beasiswa dari lembaga-lembaga tertentu.
Suatu waktu, saya pernah kebagian tugas menguji siswa kelas 6, saat itu juz yang mereka ajukan adalah juz 21. Luar biasa, siswi yang saya tes seakan sedang berada di jalan tol tanpa hambatan, tanpa jeda yang berarti mulai dari surat Al-Ankabut sampai Al-Ahzab, tuntas dalam durasi 25 menit. Ini betul-betul 25 menit yang membuktikan, karena bacaannya benar dan lancar. Biasanya durasi sesingkat ini hanya bisa ditempuh kalau sedang membaca juz amma alias juz 30.
Namun, di lain waktu saya juga pernah kebagian menguji anak-anak kelas 1, juz hafalan mereka adalah juz 30. Wajah imut dan bibir mungil mereka membuat saya malu, betapa dulu di usia mereka, saya baru belajar mengenal huruf hijaiyah. Jadi, orang tua mereka harus bangga, tanpa mereka sadari, putra dan putri kecil mereka mampu menuntaskan hafalannya dengan baik, tiap surat dalam juz amma ditasmi' dengan runut.
Mungkin dalam hati para orang tua itu bertanya-tanya, bagaimana cara guru mereka membuat anaknya bisa hafal seperti itu?, atau mungkin mereka heran; kok anakku hafal ya?, kapan dia menghafalnya?. Tak perlu heran karena Allah langsung yang menghimpun Al-Quran di dalam hati anak-anak mereka, Ar-Rahmaan...'allamal Quran (Dialah Allah yang Maha Rahman, Yang mengajarkan Al-Quran).
A.P.K. 11.02.18







Subhanallah .....
BalasHapus