Ada pesan menarik di perkuliahan kemaren (30/6/2014), terkait sebuah hadits;
Anas bin Malik semoga Allah berkenan terhadapnya hamba Rasulullah saw, bahwa Nabi saw berkata: (Tak satu pun dari Anda percaya sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri), Bukhari dan Muslim
Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra. ini biasanya hanya membuat kita terhenti pada terjemahannya yang banyak beredar, yaitu; "tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri".
Efeknya, dari terjemahan tersebut hanya berfokus pada tindakan memberi atau berbagi, yaitu kalau kamu ingin memberi orang lain, maka berikanlah yang terbaik yang juga sangat kamu cintai atau senangi. Pengertian ini tidak salah, sebab memang sudah seharusnya kita memberikan yang terbaik kepada orang lain sebagaimana hal itu juga terbaik bagi diri kita sendiri. Namun jika ditarik pada efek yang ditimbulkannya, penerjemahan seperti di atas hanya membawa efek yang tidak terlalu besar, hanya sebatas rasa senang dan puas, si penerima merasa senang mendapatkan yang terbaik dan si pemberi merasa puas telah memberikan yang terbaik, hanya sebatas itu.
Kemudian dengan penerjemahan seperti di atas, dampaknya pemberian yang tidak terbaik atau pemberian yang biasa-biasa saja tidak memberikan efek baik pada keimanan, padahal yang biasa-biasa pun jika dilakukan dengan penuh keikhlasan dan mengharap ridho Allah semata pun akan menambah efek kesempurnaan iman.
So, Untuk sebuah efek yang lebih besar dan membawa pada fungsi kedamaian, keamanan, keamanaan, kesukaan, kerelaan, harmoni, hadits di atas bisa kita terjemahkan seperti ini;
"Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia suka / rela / senang (sesuatu / suatu hal) menjadi milik saudaranya (sebagaimana) ia menyukai hal itu / sesuatu itu menjadi miliknya" .
Di dunia ini betapa banyak perselisihan, permusuhan, peperangan, kericuhan, huru hara, bentrok antar masa pendukung, ribut keluarga, iri dengki sesama teman kerja, dsb, terjadi lantaran kita tidak suka pada sesuatu yang sangat baik yang seharusnya terjadi pada kita dan sangat ingin kita raih, yang seharusnya bisa kita miliki, yang kadang kita merasa lebih berhak mendapatkannya, namun ternyata kita tidak bisa mendapatkannya dan justru saudara atau teman kita atau orang lain yang mendapatkannya, lalu kita tidak rela, kita menjadi marah, lalu menyalakan api permusuhan, dan terjadilah kericuhan.
Seandainya kita dibangun untuk memahami hadis di atas dengan cara penerjemahan yang kedua, wow..betapa indahnya dunia ini, betapa semakin sempurnanya iman kita. Kita menjadi mampu merelakan bahkan menyukai sesuatu yang terbaik bisa diraih dan dimiliki saudara kita, padahal sesuatu itu atau hal ini pun sangat ini kita raih dan kita miliki. Penjelasan dosen saya akan makna hadis di atas membawa kepada suatu kesadaran, betapa kandungan maslahat yang diinginkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits beliau di atas sangat dalam dan memiliki efek luar biasa bagi kehidupan sosial masyarakat.
Di masa pilpres sekarang, sudah seharusnya masing-masing calon, timsesnya, pendukungnya mengamalkan kandungan hadits di atas. Jika ditarik pada konteks sekarang, maka analogi dari hadits di atas adalah;
"Tidak sempurna iman calon nomor 1 sampai ia rela/suka/senang "jabatan presiden" menjadi milik calon nomor 2 sebagaimana ia menyukai jabatan itu menjadi miliknya". Atau "tidak sempurna iman calon nomor 2 sampai ia rela/suka/senang "jabatan presiden" menjadi milik calon nomor 1 sebagaimana ia menyukai jabatan itu menjadi miliknya"
Kalau makna itu dipegang teguh, insya Allah siapapun yang kalah akan tetap legowo, tetap menjaga keharmonisan, tetap membawa effek positif, karena ia berhasil membuktikan kesempurnaan imannya, yaitu rela dan suka sesuatu yang sangat ingin diraihnya, yang sangat ingin dimiliki oleh dirinya, namun setelah berusaha ternyata harus diraih oleh orang lain yang juga masih sesama saudara seiman dan seislam-Wallahu'alam (* APK-Trims Prof atas penjelasan makna hadis ini-Jazakumullah)
----------------------------------
----------------------------------
http://fokus44.blogspot.com/search/label/Produk%20Kami