Sabtu, 19 Juli 2014


Oleh: H. Athoillah Umar, MA
(Alumnus Al-Azhar Asy-Syarif Cairo)

Moral (khuluq) adalah sebuah identitas dan potensi yang ada dalam jiwa setiap manusia yang melahirkan tingkah laku (suluk). Moral memiliki hubungan erat dengan sifat, baik yang terpuji atau tercela. Dan ia juga dipengaruhi oleh lingkungan atau pengaruh eksternal.

Walaupun moral (khuluq) merupakan sesuatu bawaan lahir (jibilli) namun ia akan terus tumbuh kembang seiring bertambahnya umur manusia. Maka, alangkah baiknya jika pengaruh yang ia dapatkan adalah pengaruh yang baik, mendidik dan mendewasakan,  Rasulullah SAW bersabda :

انما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق  )أخرجه البيهقي في سننه والحاكم في مستدركه)

“ sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”

Sifat – sifat terpuji adalah refleksi fitrah manusia sementara sifat – sifat buruk adalah jelmaan nafsu. Oleh karena itu, perkembangan sifat – sifat manusia ( terutama pada masa usia dini ) sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan di sekitarnya. Jika pendidikan dan lingkungan yang mempengaruhinya baik, maka moral seseorang akan berkembang ke arah yang baik, dan sebaliknya jika dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk, maka moral itu akan berkembang menjadi buruk pula.

Pada zaman sekarang banyak kita temukan beberapa fenomena dan kejadian yang notabene merupakan perkembangan dari beberapa kasus yang pernah terjadi sebelumnya. Hal ini tidak lain disebabkan karena tabiat manusia adalah lebih dominan meniru (imitasi) terhadap kejadian, perbuatan atau apa saja yang pernah mereka lihat atau mereka dengar, baik melalui media televisi, radio, surat kabar, keluarga, tetangga, teman atau lainnya. Jadi, pengaruh eksternal dalam pembentukan moral manusia sangat besar karena manusia cenderung meniru apa yang telah ada di sekitar lingkungannya terlepas dari kemampuannaya membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kita semua tahu, bahwa jika pada awal reformasi dahulu, kegiatan korupsi hanya pada level pejabat elit, maka sekarang kasus korupsi dengan bangga dilakukan secara berjamaah baik di level elit hingga pada level kepala desa.

Jika beberapa puluh tahun lalu banyak kita dengar kasus pemerkosaan gadis, maka sekarang justru gadis remaja tidak lagi takut diperkosa, malah mereka membuka diri untuk diperkosa oleh pasangan kekasihnya atas dasar suka sama suka akibat dampak pergaulan bebas. Kaum remaja bebas melakukan hubungan seks dimana saja, tidak kenal waktu tidak pandang tempat. Mereka pergi ke klub - klub malam, dan pulang ke rumah menjelang subuh dalam keadaan mabuk. Sebagian mereka bahkan telah terjerumus ke dalam dunia narkoba. Realita ini diperkuat oleh beberapa fakta dan statistik yang menunjukkan peningkatan jumlah pengidap HIV dalam setiap tahunnya secara drastis.

Fenoma sosial lain yang mencerminkan semakin tipisnya moral adalah ilegal logging yang melibatkan pejabat atau aparat negara, hal ini dikuatkan realita bahwa sekarang hampir dua pertiga hutan kita telah digunduli oleh oknum – oknum tidak bertanggung jawab yang melakukannya tanpa rasa malu atau takut, bahkan mereka tidak pernah memikirkan dampak buruk yang akan ditanggung oleh jutaan umat manusia akibat keserakahan mereka.

Mengapa semua ini bisa terjadi ? Secara umum, dekadensi moral dalam masyarakat terjadi karena beberapa faktor berikut :

    Jauh dari agama dan selalu sibuk dengan urusan dunia.
    Kuatnya arus globalisasi, westernisasi, trend, gaya hidup gaul dan pergaulan bebas yang dapat melunturkan nilai – nilai moral, budaya dan agama dan menyebabkan lingkungan kita tidak lagi steril.
    Revolusi teknologi di bidang informasi dan komunikasi yang semakin hari semakin ‘menyetir’ masyarakat kita, baik yang berupa televisi, telefon selular, atau internet.  Kemajuan di bidang teknologi ini telah sering disalahgunakan oleh masyarakat kita, karena sifatnya yang dwifungsi, yakni pembawa manfaat dan sekaligus pembawa madlarrat jika disalahgunakan. Berikut sasaran korban kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi :
        Kalangan ABG dan remaja.

Golongan ini termasuk yang sangat rawan menjadi korban dampak kemajuan teknologi. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sebanyak 63% kaum remaja dan ABG telah kecanduan dengan membuka situs – situs porno melalui internet sementara orang tua mereka tidak mengetahuinya.

        Hubungan pasutri

Tidak sedikit hubungan suami istri retak disebabkan internet, karena kasus perselingkuhan semakin banyak terjadi.

        Dunia kriminalitas

Kemajuan teknologi yang sangat pesat memudahkan para kriminal untuk mendapatkan targetnya, bahkan dengan kemajuan teknologi ini jaringan mafia nasional dan internasional menjadi semakin besar dan solid.

        Perdagangan wanita

Salah satu penyalahgunaan teknologi informasi adalah jual beli wanita pemuas nafsu melalui internet atau telepon selular. Media ini dipandang sangat efektif untuk transaksi germo karena bersifat privasi dan rahasia. Apalagi kesan iklan yang ditampilkan melalui media ini tidak hanya sebatas pandangan mata, melainkan orang yang melihatnya akan langsung terkesan ke dalam otak dan naluri seksnya.

    Desakan ekonomi akibat kemiskinan atau krisis.

Jika orang sedang terpuruk dalam kemiskinan, maka besar kemungkinan ia akan menghalalkan segala cara demi keluar dari keterpurukannya itu. Oleh sebab itulah Rasulullah SAW berlindung kepada Allah dari kemiskinan, dalam doanya :

اللهم إني أعوذ بك من الكفر والفقر ( أخرجه أبو داود )

Bahkan imam Ali pun berkata : “ jika kemiskinan adalah manusia, maka sungguh aku akan membunuhnya”.

Wajar jika krisis moneter yang terjadi atau penurunan taraf ekonomi yang melanda kehidupan seseorang akan melahirkan sebuah ketakutan dan kegelisahan, sehingga ia terdorong dan terpaksa  untuk memulihkan keadaannya dengan melakukan perbuatan yang amoral seperti mencuri, korupsi, menipu, melakukan transaksi haram dan lain sebagainya.

    Minimnya pengawasan dari orang tua dan semakin banyaknya fenomena orang tua egois yang mementingkan diri sendiri yakni lebih mementingkan karir dari pada pendidikan anaknya, sehingga peran isteri sebagai ibu atau suami sebagai bapak berkurang atau tidak ada sama sekali.
    Minimnya peran lembaga pendidikan resmi

kebanyakan lembaga atau institusi pendidikan di negara kita hanya bertanggung jawab di lingkungan sekolah saja, dan tidak mempunyai tanggung jawab moril di luar lingkungan sekolah bahkan lembaga tersebut sama sekali tidak memiliki ikatan emosional dengan anak didiknya.

    Tidak adanya sanksi yang memberatkan atas pelanggaran moral yang terjadi.
    Adanya kesalahan dalam format pendidikan kita, misalnya pembelajaran sex education atau ilmu filsafat di usia dini.

Melihat faktor – faktor tersebut di atas, rasanya tidak ada lagi yang dapat kita perbuat untuk membendung serangan dekadensi moral ini melainkan dengan membentengi diri kita sendiri dan keluarga kita dengan akhlaq mulia.

Akhlaq memiliki dimensi yang bersifat valuatif dan normatif, akhlaq adalah sebuah term yang bermakna prinsip – prinsip atau standard yang menentukan baik buruknya tingkah laku (suluk) individu atau masyarakat. Oleh karena itulah akhlaq menempati posisi yang sangat urgen dalam Islam, dimana keislaman seseorang tidak sempurna jika ia cacat moral atau tercela akhlaqnya. Hal ini dipertegas oleh sabda baginda Rasulullah SAW dalam haditsnya :

« إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحاسنكم أخلاقا » رواه الترمذي .

“ Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku posisinya pada hari kiamat adalah mereka yang yang paling baik akhlaqnya” . Dalam hadits lain beliau bersabda :

« إن خياركم أحسنكم أخلاقا » رواه البخاري.

“ Sesungguhnya orang – orang paling baik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaqnya” .

Dan dengan bekal akhlaq mulia lah seseorang dapat menambah timbangan amalannya pada hari hisab sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya :

« ما من شيء أثقل في الميزان من حسن الخلق » رواه الترمذي .

“ tiada sesuatu yang beratnya melebihi akhlaq mulia di atas timbangan amal”

Dari sini jelaslah bahwa Islam meletakkan akhlaq mulia pada posisi yang sangat tinggi. Sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah pasti akan selalu menjaga nilai-nilai moral yang luhur. Mereka akan merasa aman zahir dan batin, jalanan menjadi aman dan bersih, tidak melegalkan transaksi haram, tidak ada penjarahan, perampokan dan pencurian, tidak mentoleransi tipu menipu, kehidupan bertetangga pun berjalan dengan penuh keharmonisan dan rasa saling menjaga, begitu pula pemimpinnya selalu memahami suka duka rakyatnya. Walhasil, akhlaq mulia adalah kunci utama bagi setiap individu jika menginginkan masyarakat yang ideal.

Rehabilitasi moral (akhlaq) secara global ini juga harus diiringi dengan rehabilitaasi di setiap lini kehidupan  masyarakat seperti :

1-    Rehabilitasi bidang politik. Cuaca politik yang tidak sehat sedikit banyak telah mempengaruhi keadaan psikis masyarakat dan pada sebagian, melahirkan sikap apatisme yang berkesinambungan.

2-    Pemulihan ekonomi nasional. Keadaan ekonomi yang terpuruk merupakan salah satu faktor penyebab ketakutan, kegelisahan dan kegundahan. Maka pemerintah harus segera melakukan tindakan pemulihan ekonomi nasional sehingga rakyat kembali merasa aman, daya beli meningkat dan segera membuka lapangan kerja bagi pengangguran yang semakin bertambah jumlahnya.

3-    Revisi undang – undang mengenai sanksi tindakan kriminalitas dan amoral. Salah satu penyebab bertambahnya kegiatan kriminal, asusila dan amoral adalah disebabkan karena tidak adanya sanksi yang memberatkan atau membuat kapok atau efek jera bagi si pelaku.

4-    Rehabilitasi bidang pendidikan. Wajib bagi orang tua untuk memilih lingkungan pendidikan yang steril dari pergaulan bebas bagi anaknya, dan jika anak berada di rumah, maka orang tua wajib melakukan pengawasan secara intensif dengan menyeleksi teman, bacaan, dan tontonan televisi.

5-    Memperbanyak kegiatan keilmuan dan keagamaan di dalam masyarakat, yaitu dengan mengadakan seminar atau majlis pengajian secara berkala.

Referensi :

-          Jamal Abdun Nasir, Tsarwatul akhlaqiyyat fi mahabbi tsauratil ma’lumat.

-          Zahra’ Muhammad Muradi, Almusykilat al-akhlaqiyyah al-muntasyirah fil mujtama’at al-islamiyyah    al-mu’ashirah wa subulu mu’alajatiha.
-          Sulaiman bin Abdurrahman al-Huqail, Mutathollabatul muhafadzoh ala ni’matil amn wal istiqrar fi biladina.


------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------

http://fokus44.blogspot.com/search/label/Produk%20Kami



Posted by etalase44 On 16.41 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text