Jumat, 14 Oktober 2016

Siapa yang tidak menyukai jus?. Mayoritas orang dari yang kecil sampai yang tua menyukai minuman sari buah yang merupakan cairan yang secara alami terdapat di dalam buah-buahan.

Yang menarik dari jus adalah kemurnian dan kualitas, sedang sisanya adalah ampas yang dianggap sudah tidak berguna lagi, sebab saripatinya sudah dikumpulkan dalam wujud cairan yang nikmat dan bermanfaat.

Lalu apa kaitannya dengan waktu?.
Waktu adalah ruang kehidupan manusia yang diciptakan Allah SWT. Durasinya panjang melampaui kehidupan manusia itu sendiri, bahkan sebelum seorang manusia tersebutkan di dunia ini, waktu sudah ada.

Dalam durasi waktu yang panjang, manusia diberi batas, itulah yang disebut dengan ajal. Ia adalah destinasi yang akan dicapai oleh setiap orang. Tidak ada yang dapat memajukannya dan tidak ada pula yang memundurkannya. Itulah waktu yang tepat, bukan tepat waktu. Karena jika disebut tepat waktu itu artinya ada suatu peran fisik manusia yang dapat memajukan atau memundurkannya berdasarkan versinya.

Di dalam Al-Quran, yaitu pada surat Al-Ashr, Allah SWT bersumpah dengan waktu "Wa Al-Ashr". Sebuah penegasan tertinggi akan urgensi waktu yang perlu mendapat perhatian dari manusia. Keluasan waktu yang diberikan Allah SWT kepada manusia kerap membuat mereka lupa bahwa kelak ada batas di mana mereka akan tiba padanya.

Kelupaan itulah yang membuat Nabi Muhammad SAW mengingatkan akan dua hal yang selalu membuat manusia terlena dan terperdaya di dalamnya, yaitu kesehatan dan kesempatan (waktu yang luang).

Al-Ashr juga diidentikkan dengan waktu Ashar, sore hari. Di mana matahari sudah mulai redup untuk menuju ufuk tempat ia terbenam. Pemilihan kata Al-Ashr untuk waktu di penghujung hari, senada dengan kata yang dipergunakan untuk menyebut hasil perasan buah atau jus buah dengan istilah "Ashir", keduanya berasal dari akar kata yang sama; 'Ashara. Jadi Ashir (jus) adalah hasil terakhir yang kita peroleh berupa saribuah, setelah kita menjalani proses pemerasan atau memblender buah, lalu hasil akhirnya adalah minuman alami dari cairan buah tersebut.

Demikian juga dengan waktu "ashar", setelah dari pagi kita menjalani waktu, melewati siang, lalu datanglah waktu sore yang merupakan penghujung siang, ia ibarat hasil akhir dari proses perasan waktu yang kita peras dengan berbagai kegiatan sejak pagi hari.

Lalu, jika dicoba untuk mengaitkan, pemilihan kata Al-Ashr untuk ayat pertama dalam surat ini, ibarat mengajak kita untuk memahami bahwa durasi waktu yang diberikan Allah SWT haruslah kita peras hingga kita memperoleh perasan yang berkualitas.

Dengan Al-Ashr Allah SWT ingatkan kita akan urgensi waktu. Bahwa dari rangkaian waktu yang dijalani manusia, ada saripati waktu, ada perasan waktu yang betul-betul bermanfaat bagi manusia. Jika sampai seorang manusia tidak mampu mereguk jus waktu yang dipenuhi perasan bervitamin itu maka ia akan menjadi manusia yang dihampiri oleh penyakit-penyakit yang membawa kerugian.

Isyarat akan perasan waktu yang berkualitas dapat kita tangkap pada ayat ketiga, yaitu waktu yang diisi dengan keimanan, amal shaleh, mengingatkan akan kebenaran dan menasehatkan akan kesabaran.

Maka peraslah waktu yang kita miliki, jadikan ia masa-masa yang selalu berkualitas, Jangan biarkan mengalir begitu saja tanpa kita peroleh saripati terbaiknya. Sebab kaki kita tidak akan bergerak di hadapan persidangan Allah SWT, sampai kita ditanya akan empat hal, salah satu satunya adalah waktu-waktu dalam durasi usia kita dipergunakan untuk apa saja.

Demi Masa
sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi
kecuali mereka yang beriman
dan mereka yang mengerjakan perbuatan yang baik (sholeh)
dan saling menasehati dengan kebenaran
dan saling menasehati dengan kesabaran


Abu Hudzaifah menceritakan, sebagaimana diulas dalam kitab Sofwatu at-Tafasir, karya Ash-Shobuni, bahwa dahulu terdapat dua sahabat Nabi SAW yang jika mereka berpisah, selalu berpamitan dengan membaca surat Al-Ashr. Itulah mungkin yang menjadi alasan mengapa guru-guru kita selalu membiasakan kita menutup pelajaran atau menjelang pulang sekolah dengan membaca surat yang mulia ini, surat yang dianggap oleh imam Asy-Syafii memiliki muatan yang cukup sebagai pedoman kehidupan manusia.

Wallahu'alam bi ash-Showab
(by.APK)
Posted by etalase44 On 22.24 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text