Senin, 01 Juni 2015

Kita yakin agama Islam ini akan selalu dijaga Allah SWT, Dia akan menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir membenci, sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukai. Sudah banyak penistaan yang dilakukan oleh orang-orang yang membenci agama Islam, baik dari kalangan internal maupun eksternal. Berbagai cara mereka lakukan, baik yang berbentuk perkataan maupun perbuatan. Penista dari kalangan eksternal mudah terlihat, namun yang dari kalangan nifaq internal terkadang sulit untuk diidentifikasi karena dia memakai topeng kemunafikan, ibarat kata pepatah;

"betapa banyak orang yang berada di antara kita tapi dia bukan termasuk golongan kita".

Namun meski dengan semua penistaan yang terjadi, sedikitpun agama Allah, Islam, tidak berkurang kemuliaannya. Jadi tidak ada yang perlu kita khawatirkan dari sisi ini. Karena agama Allah tidak akan roboh hanya karena perolok-olok yang ditujukan kepadanya.

Lalu apa yang harus kita khawatirkan?, untuk menjelaskan ini, hal pertama yang harus kita pahami adalah teori kekuasaan. Suatu kekuasaan biasanya diperoleh oleh seseorang karena dia dipilih atau karena dia ditunjuk. Dengan dua cara ini dia dianggap legal memiliki kewenangan dan kekuasaan (power). Tentunya kekuasaan tersebut diberikan oleh orang-orang yang memilihnya atau menunjuknya, agar dia menjalankannya dengan amanah dan mewujudkan hal yang terbaik bagi kemaslahatan mereka yang memilih atau yang menunjuk.

Jika dia berkuasa sebagai seorang presiden, maka dia berkewajiban untuk menunaikan amanah rakyat yang telah memilihnya, untuk kepentingan dan kemaslahatan mereka. Jika dia berwenang dan berkuasa sebagai seorang menteri, maka dia berkewajiban membantu sang Presiden yang telah menunjukknya agar sang presiden dapat menjalankan amanah rakyat yang telah memilihnya.

Begitulah!. Maka sebagai manusia, kita telah dikuasakan oleh Allah SWT melalui penciptaan dan eksistensi kita di muka bumi ini. Keberadaan kita di jagat raya ini membawa suatu kekuatan dan kewenangan untuk menjalankan amanah dan kewajiban yang telah diberikan oleh Dzat yang menunjuk kita untuk berkuasa sebagai khilafah di muka bumi, yaitu beribadah, "dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku".

Ibadah yang paling tampak dalam keseharian kita adalah shalat lima waktu. Jika ia kita tegakkan maka tegaklah agama ini. dan jika kita tinggalkan maka robohlah agama ini. Tapi yang dimaksud dengan kerobohan itu, adalah keruntuhan agama tersebut dari semayamnya di dalam jiwa kita. Jika shalat mulai dilalaikan maka terkikis pilar-pilar kokoh agama ini di dalam diri kita. Lalu sebagai gantinya akan tumbuh kekejian dan kemungkaran. Itulah mengapa di dalam firman-Nya Allah SWT telah menekankan bahwa shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Menegakkan shalat, sama artinya dengan menunaikan kekuasaan dan kewenangan yang telah diberikan Allah kepada kita. Sebab Allah telah membentangkan dua jalan, jalan kebenaran dan jalan keburukan. Jika shalat kita tegakkan, maka kita menjadi berkuasa dan berwenang untuk memilih jalan kebenaran, sebab di dalam 7 ayat bacaan wajib shalat, ada satu doa yang selalu kita ucapkan "berilah kami petunjuk jalan yang lurus".

Menegakkan shalat artinya menunjukkan bahwa diri kita berkuasa. Ya, berkuasa dan memiliki kekuatan untuk tidak terjatuh dalam kemalasan beribadah yang selalu dihembuskan oleh buhul-buhul iblis.

Jangan robohkan kekuasaan dan kewenangan yang telah Allah SWT anugerahkan kepadamu. Selalu, memintalah pertolongan dengan kesabaran dan shalat. Wallahu'alam.

(Abdi PK, Nisfu Sya'ban 1436 H/1 Juni 2015)
Posted by etalase44 On 08.10 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text