Ada
sebuah nasehat yang pernah saya dengar, “Kalau kamu sedang mengendarai mobil
atau motor sendirian atau dengan keluargamu dan melintasi jalan sepi. Kemudian tiba-tiba seseorang berupaya
menghentikan laju kendaraanmu, dia melambai-lambaikan tangan seolah-olah sedang
membutuhkan bantuanmu. Maka upayakan agar mobilmu tidak berhenti tepat di dekat
posisinya, tapi lewati dia hingga beberapa meter ke depan, sehingga kamu
memiliki jarak pandang yang cukup untuk mengintipnya dari kaca spion, dan jika
nampak hal-hal yang mencurigakan maka kamu memiliki kesempatan yang cukup untuk
meninggalkannya.
Satu
hal yang ingin saya ambil dari nasehat di atas adalah pentingnya “menjaga
jarak”. Bukan jarak dalam artian permusuhan atau terlalu ekskulif, sehingga
enggan bersentuhan dengan orang lain. Tapi jarak di sini adalah jarak pandang
yang cukup untuk melihat dan berpikir secara objektif. Perhatikan hampir
rata-rata semua mobil yang digunakan untuk latihan nyetir, dibelakangnya selalu
tertulis “jaga jarak”. Tentu saja itu untuk mengingatkan kepada pengemudi di
belakangnya, agar pandangan dan pikirannya menjadi terbuka dan objektif, bahwa
orang yang sedang berkendara di hadapannya adalah orang yang baru belajar,
sedang berlatih, dan kemungkinan besar akan melakukan kesalahan, sehingga yang
harus paling berhati-hati adalah orang yang sudah lebih pandai berkendara dan
berada di belakang kendaraan yang digunakan untuk berlatih tersebut.
Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti
akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan
jadi kekasihmu”.
Perkataan bijak di atas tidak akan bisa terealisasi jika
seseorang tidak pandai menjaga jarak, sebab dia hanya akan menjadi orang yang
melihat gajah dari jarak dua centimeter. Apa yang bisa dideskripsikan dari
gajah yang dilihat dari jarak sedekat itu, dia hanya akan mengatakan gajah
adalah sebentang kulit yang berbulu.
Seseorang yang menceburkan dirinya dalam suatu aktifitas
tertentu, terlalu asyik di sana, atau terlalu menerima terhadap kondisinya,
maka dia akan lupa menjaga jarak, ia menjadi kehilangan objektifitasnya.
Akibatnya jika ditimpa kehilangan, ia akan merasakan kehilangan yang begitu
mendalam dan sulit meredakannya. Dan sebaliknya, saat mendapat kesenangan dia
akan terlampau gembira, sehingga sulit lepas dari kebanggaan yang melampaui
batas.
Jagalah jarak dari dunia, agar tak ada jarak antara kita
dengan Allah SWT.







0 komentar:
Posting Komentar