Sabtu, 10 Januari 2015

Ada sebuah nasehat yang pernah saya dengar, “Kalau kamu sedang mengendarai mobil atau motor sendirian atau dengan keluargamu dan melintasi jalan sepi.  Kemudian tiba-tiba seseorang berupaya menghentikan laju kendaraanmu, dia melambai-lambaikan tangan seolah-olah sedang membutuhkan bantuanmu. Maka upayakan agar mobilmu tidak berhenti tepat di dekat posisinya, tapi lewati dia hingga beberapa meter ke depan, sehingga kamu memiliki jarak pandang yang cukup untuk mengintipnya dari kaca spion, dan jika nampak hal-hal yang mencurigakan maka kamu memiliki kesempatan yang cukup untuk meninggalkannya.

Satu hal yang ingin saya ambil dari nasehat di atas adalah pentingnya “menjaga jarak”. Bukan jarak dalam artian permusuhan atau terlalu ekskulif, sehingga enggan bersentuhan dengan orang lain. Tapi jarak di sini adalah jarak pandang yang cukup untuk melihat dan berpikir secara objektif. Perhatikan hampir rata-rata semua mobil yang digunakan untuk latihan nyetir, dibelakangnya selalu tertulis “jaga jarak”. Tentu saja itu untuk mengingatkan kepada pengemudi di belakangnya, agar pandangan dan pikirannya menjadi terbuka dan objektif, bahwa orang yang sedang berkendara di hadapannya adalah orang yang baru belajar, sedang berlatih, dan kemungkinan besar akan melakukan kesalahan, sehingga yang harus paling berhati-hati adalah orang yang sudah lebih pandai berkendara dan berada di belakang kendaraan yang digunakan untuk berlatih tersebut.

 Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu”.
Perkataan bijak di atas tidak akan bisa terealisasi jika seseorang tidak pandai menjaga jarak, sebab dia hanya akan menjadi orang yang melihat gajah dari jarak dua centimeter. Apa yang bisa dideskripsikan dari gajah yang dilihat dari jarak sedekat itu, dia hanya akan mengatakan gajah adalah sebentang kulit yang berbulu.

Seseorang yang menceburkan dirinya dalam suatu aktifitas tertentu, terlalu asyik di sana, atau terlalu menerima terhadap kondisinya, maka dia akan lupa menjaga jarak, ia menjadi kehilangan objektifitasnya. Akibatnya jika ditimpa kehilangan, ia akan merasakan kehilangan yang begitu mendalam dan sulit meredakannya. Dan sebaliknya, saat mendapat kesenangan dia akan terlampau gembira, sehingga sulit lepas dari kebanggaan yang melampaui batas.


Jagalah jarak dari dunia, agar tak ada jarak antara kita dengan Allah SWT.
Posted by etalase44 On 19.46 No comments

0 komentar:

Posting Komentar

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

JUMLAH KUNJUNGAN

Sample Text